DetikNews
Rabu 17 Oktober 2018, 10:24 WIB

Diselundupkan ke Bali, 3 Siamang Dikembalikan ke Sumbar

Aditya Mardiastuti - detikNews
Diselundupkan ke Bali, 3 Siamang Dikembalikan ke Sumbar Ilustrasi (dok.detikcom)
Denpasar - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali melakukan translokasi tiga Siamang ke Sumatera Barat. Dua Siamang ini berasal dari sitaan pasar Satria, Denpasar, Bali dan satu dari penyerahan warga.

Tiga siamang ini bernama Joko, Josh dan Hugo yang rata-rata berusia 8-9 tahun. Komunitas penyayang satwa seperti Yayasan FNPF (Pengelola PPS Bali) dan Jakarta Animal Aid Network (JAAN) iktu membantu BKSDA dalam proses translokasi ketiga siamang ini.

"Tiga siamang endemik Sumatera tersebut selama ini dititip perawatkan di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Bali di Tabanan. Selanjutnya satwa-satwa tersebut akan dilatih dan direhabilitasi lebih lanjut di Yayasan Kalaweit Konservasi Siamang dan Owa di Supayang, Solok, Sumatera Barat," kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Bali Sulistyo Widodo di kantornya, Rabu (17/10/2018).

Sulis menambahkan ketiga siamang itu sudah dititiprawatkan sejak 2014 lalu. Proses translokasi ini memang membutuhkan waktu panjang.

"Kegiatan translokasi tiga siamang yang semuanya jantan tersebut sebenarnya sudah direncanakan sejak lama, namun karena terkendala teknis serta proses pengeluaran/pemasukan satwa dari dan menuju Bali yang harus melalui beberapa tahapan di antaranya yaitu pemilihan atau kesiapan lokasi pelepasliaran dan pemeriksaan medis. Saat pengiriman pemeriksaan kesehatan juga ketat agar tidak menularkan penyakit zoonosis," urainya.

Dia menambahkan salah satu siamang yang diserahkan oleh warga sangat jinak, sehingga membutuhkan waktu untuk proses rehabilitasi sebelum dilepasliarkan ke alam. Di lokasi yang sama, pendiri JAAN Femke Den Haas mengatakan siamang hasil sitaan dari pasar Satria itu bakal dikirim ke Rusia. Beruntung dua siamang itu berhasil diselamatkan.

"Siamang yang dari Pasar Satria itu mau diselundupin ke Rusia. Kemudian yang peliharaan itu katanya didapat dari Palembang diselundupin sampai ke Bali. Jadi pertanyaannya kok bisa sampai ke sini? Berarti kan pintu masuk ke Bali juga belum dijaga," terang Femke.

Dia pun berharap pihak-pihak terkait saling bahu-membahu mencegah perdagangan satwa-satwa liar maupun yang dilindungi. Apalagi banyak satwa liar maupun yang dilindungi diperdagangkan di Bali.

"Jadi pintu masuk ke Bali harus dijaga. Di Bali terkenal dengan perdagangan binatang, banyak sekali perdagangan priata. Orang luar negeri tertarik satwa eksotis ini, padahal satwa liar ini juga harus dilindungi mereka tidak bisa dijadikan binatang peliharaan," tuturnya.

(ams/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed