Round-Up

Terkuak Pencucian Uang Miliaran Rupiah di Kasus Tes Antigen Daur Ulang

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 15 Sep 2021 21:08 WIB
Penampakan alat antigen bekas sebelum didaur ulang
Alat Antigen Bekas (Dok. Polda Sumut)
Deli Serdang -

Kasus penggunaan antigen bekas di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara (Sumut), yang melibatkan eks Manajer Kimia Farma Diagnostika (KFD), Picandi Mascojaya terus berlanjut. Kini terkuak adanya pencucian uang miliaran rupiah dalam kasus ini.

Picandi Mascojaya diketahui menjalani sidang perdana kasus tes antigen bekas. Picandi didakwa melanggar UU Kesehatan dan/atau Perlindungan Konsumen serta Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) senilai Rp 2,2 miliar.

"Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 196 UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Jo Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP Jo Pasal 65 ayat (1) KUHP atau Pasal 62 ayat (1) Jo Pasal 8 ayat (1) huruf a UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Jo Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP Jo Pasal 65 ayat (1) KUHP. Dan kedua Pasal 3 UU No 8 tahun 2010 tentang TPPU," kata jaksa dalam dakwaan yang dibacakan di PN Lubuk Pakam, Rabu (15/9/2021).

Picandi dinilai sengaja memerintahkan karyawannya untuk menggunakan alat kesehatan yang tidak memenuhi standar, yakni penggunaan alat tes antigen Corona bekas. Penggunaan alat tes antigen bekas dilakukan di laboratorium yang ada di Bandara Kualanamu.

Jaksa menyebut hal ini dilakukan Picandi untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Picandi disebut mendapat keuntungan sebesar Rp 2,2 miliar.

Alat tes antigen bekas itu disebut telah digunakan sejak 18 Desember 2020 hingga 17 April 2021. Kurang lebih sebanyak 100 orang per hari yang melakukan tes.

"Terdakwa memerintahkan untuk menggunakan peralatan rapid tes antigen COVID-19 berupa swab dakron dan tabung antigen bekas pakai untuk pelayanan rapid tes swab antigen COVID-19 di Bandara Kualanamu dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan pribadi," sebut Jaksa.

"Bahwa dalam kurun waktu sejak 18 Desember 2020 sampai dengan 27 April 2021, Terdakwa telah memerintahkan para karyawan PT Kimia Farma Diagnostika sebagaimana tersebut di atas untuk memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standar dan/atau persyaratan keamanan, khasiat atau kemanfaatan, dan mutu berupa Swab Dakron dan Tabung Antigen bekas, kurang lebih sebanyak 100 orang per harinya. Atas perbuatan Terdakwa tersebut, ia memperoleh keuntungan kurang lebih sebesar Rp 2.236.640.000 (Rp 2,2 miliar)," ucap jaksa.

Lihat juga Video: Harga Tes PCR-Antigen Turun, Pelaku Perjalanan ke Bali Via Bandara Naik

[Gambas:Video 20detik]