Kadispora Irit Bicara soal Surat Ingatkan Anies Harus Bayar Formula E 5 Tahun

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Rabu, 15 Sep 2021 13:52 WIB
Sirkuit Formula E
Foto: Dok. Formula E
Jakarta -

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta Ahmad Firdaus belum mau mengomentari soal beredarnya surat ke Gubernur Anies Baswedan terkait Formula E. Surat itu berisi mengingatkan Anies wajib bayar Formula E selama 5 tahun.

"Kalau itu saya nggak ada komen dulu. Masalah PON dulu. Nanti aja," ujar Firdaus, di Balai Kota Jakarta, Rabu (15/9/2021).

Firdaus ditanya setelah acara internal pelepasan atlet kontingen PON DKI. Firdaus juga ditanya soal potensi tuntutan arbitrase jika kewajiban bayar komitmen Formula E dilanggar.

"Saya nggak komentar dulu ya," ucap dia.

Sebelumnya, beredar surat dikeluarkan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI untuk Gubernur Anies Baswedan. Surat Dispora ke Anies ini dibuat pada 15 Agustus 2019.

Dalam surat itu, Pemprov DKI memiliki kewajiban membayar biaya komitmen selama lima tahun berturut-turut. Rinciannya sebagai berikut:

Sesi 2019/2020: 20 juta poundsterling
Sesi 2020/2021: 22 juta poundsterling
Sesi 2021/2022: 24,2 juta poundsterling
Sesi 2022/2023: 26,620 juta poundsterling
Sesi 2023/2024: 29,282 juta poundsterling

"Berdasarkan hasil kajian terhadap draf nota kesepahaman (MoU) antara Pemprov DKI dengan Formula E Limited terdapat kewajiban yang harus dibayar oleh Pemprov DKI berupa biaya komitmen selama 5 tahun berturut-turut," tulis surat itu, seperti dilihat pada Selasa (14/9).

Berdasarkan hasil rapat dengan Badan Anggaran DPRD DKI 13 Agustus 2019, anggaran untuk Formula E senilai 20 juta poundsterling atau setara Rp 360 miliar. Adapun anggaran itu sudah disetujui dan dibahas pada paripurna DPRD.

Pada diktum ketiga, DKI juga memiliki kewajiban membayar commitment fee pada 2020 untuk pembayaran asuransi sebesar 35 juta euro. Biaya itu untuk FEO, FIA, tim peserta, dan pembalap peserta, termasuk seluruh kontraktor dan tamu FEO, FIA, tim, dan pihak terkait.

Selanjutnya, Dispora juga mengingatkan Anies terkait kewajiban membayar commitment fee selama lima tahun itu. Jika merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 2019 tentang pengelolaan keuangan daerah, pada pasal 92 ayat (6) disebutkan, jangka waktu penganggaran pelaksanaan kegiatan tahun jamak tidak melampaui akhir tahun masa jabatan daerah berakhir.

Dan, jika kewajiban bayar lima tahun berturut itu tidak dijalankan, bisa dianggap sebagai perbuatan wanprestasi dan bisa digugat.

"Dengan ditandatanganinya perikatan MoU, maka Pemprov DKI Jakarta harus bisa mengalokasikan anggaran dengan besaran sesuai yang diperjanjikan. Apabila kewajiban tersebut tidak bisa dilaksanakan, maka akan dianggap sebagai perbuatan wanprestasi yang dapat digugat di arbitrase internasional di Singapura," tulis surat tersebut.

(idn/fjp)