Sorotan Komnas Perempuan soal Kasus Penyimpangan Seks Dokter di Semarang

Farih Maulana Sidik - detikNews
Selasa, 14 Sep 2021 06:54 WIB
Colour backlit image of the silhouette of a woman with her hands on her head in a gesture of despair. The silhouette is distorted, and the arms elongated, giving an alien-like quality. The image is sinister and foreboding, with an element of horror. It is as if the woman is trying to escape from behind the glass. Horizontal image with copy space.
Foto: iStock
Jakarta -

Komnas Perempuan turut berkomentar terkait oknum dokter berinisial DP, yang mencampurkan spermanya ke makanan istri temannya di Semarang, Jawa Tengah. Komnas Perempuan menilai kasus ini tergolong pelecehan seksual non-fisik.

"Dalam kasus ini, kekerasan seksual yang terjadi berbentuk pelecehan seksual non-fisik dalam bentuk mengintip korban," kata Komisioner Komnas Perempuan Siti Aminah Tardi kepada wartawan, Senin (13/9/2021).

Namun, dia menyoroti bahwa pelecehan seksual non-fisik belum diatur dalam hukum pidana. Oleh karena itu, dia mendorong agar bentuk pelecehan seksual non-fisik diatur dalam RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual.

"Karena pelecehan seksual non-fisik belum diatur, karenanya Komnas Perempuan mendorong pengaturan pelecehan seksual non-fisik diatur dalam RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Agar kasus-kasus pelecehan seksual non-fisik memiliki kepastian hukum dan korban bisa mengakses keadilannya," ucapnya.

Siti Aminah menyebut ulah pelaku memasukkan sperma ke makanan, dalam KUHP dikategorikan 'merusak kesehatan'. Menurutnya, hal itu sebagai salah satu bentuk penganiayaan.

"Menurut yurisprudensi, maka yang diartikan dengan 'penganiayaan' yaitu sengaja menyebabkan perasaan tidak enak (penderitaan), rasa sakit, atau luka. Menurut alinea 4 pasal ini, masuk pula dalam pengertian penganiayaan ialah sengaja merusak kesehatan orang," ujarnya.

"Harus dibuktikan bahwa memasukkan sperma ke dalam makanan itu merusak kesehatan," tambahnya.

Analisis Psikolog

Ahli Psikologi Forensik, Reza Indragiri, menyebut ulah pelaku bukan hal yang luar biasa. Sebab, kata dia, apa yang dilakukan pelaku bermotif karena hasrat seksual.

"Yang membingungkan adalah mengapa air maninya dicampur ke makanan orang lain. Ini apa motifnya? Klenik? Atau obsesi kompulsi yang punya makna simbolik? Apa pun itu, bisa diperkarakan secara pidana," kata Reza kepada wartawan, Senin (13/9).

Reza menilai ulah pelaku yang mencampurkan spermanya ke makanan korban adalah perilaku meresahkan.

"Terlepas kandungan nutrisi yang ada di dalamnya, ini benda yang menjijikkan. Haram, dari kacamata Islam. Juga risiko terburuknya adalah transmisi kuman penyakit seksual," katanya.

Dia menduga ada sejumlah faktor yang membuat korban melakukan aksi tak terpujinya.

"Jangan-jangan lemah syahwat, cemas pada lawan jenis, masalah ejakulasi dini, dan inferioritas lainnya. Dikompensasikan dengan 'menaklukkan' korban memakai cara sedemikian rupa," ujarnya.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya:

Saksikan juga 'Ayah Taqy Malik Buka Pintu Damai untuk Istri Siri':

[Gambas:Video 20detik]