Program Kirim Kadet Belajar ke Australia Menhan Prabowo Dipuji

Khoirul Anam - detikNews
Minggu, 12 Sep 2021 15:20 WIB
Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto.
Foto: Jefrie Nandy Satria/detikcom
Jakarta -

Pengamat hubungan internasional Ian Montratama mendukung langkah Indonesia menjalin program pertukaran siswa militer dengan Australia. Menurutnya, hal ini akan berdampak positif terhadap pembinaan personel.

"Ini harus berkesinambungan. Dulu kita punya program yang sama ke akmil (akademi militer) Inggris, Sandhurst, tapi akhirnya mandeg," kata Ian kepada wartawan Jumat (10/9).

"Saat Pak Prabowo (Menteri Pertahanan) masih aktif di militer, program pertukaran siswa militer juga telah dilakukan ke AS (Amerika Serikat) dan Jepang," imbuhnya.

Ian menerangkan, banyak pengetahuan yang didapatkan dari kadet Indonesia yang mengikuti program tersebut. Apalagi, lanjutnya, akmil di negara maju selalu dikembangkan sesuai dinamika peran militer dalam keamanan regional dan global.

"Penting bagi para taruna kita untuk mengalami proses pembelajaran di akmil negara maju," jelas akademisi Universitas Pertamina itu.

"Bagi para perwira, yang penting adalah penyetaraan pendidikan luar negeri dengan pendidikan dalam negeri sehingga mereka tidak khawatir untuk dijadikan prasyarat promosi kariernya jika ikut pendidikan luar negeri," paparnya.

Oleh karena itu, Ian mendorong program pertukaran taruna untuk dimasukkan ke dalam kurikulum akademi. Ia juga meminta program dilaksanakan secara berkesinambungan sehingga menjadi kebijakan tahunan.

"Ada bobot SKS (satuan kredit semester)-nya dan sasaran outcome yang dapat diukur prestasinya," ujarnya.

Di sisi lain, ia berpendapat, kerja sama Indonesia-Australia tidak lepas dari kedekatan antara Negeri Kanguru dan AS. Dengan demikian, kebijakan Australia selalu selaras dengan langkah pertahanan AS di Indonesia.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa hal tersebut tak mempengaruhi sikap politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Alasannya, Indonesia beberapa kali pernah menjalin kerja sama dengan China atau Rusia.

"Seperti latma passus (pasukan khusus) Sharp Knife," katanya.

Ia berpandangan, tawaran Australia perlu direspons baik mengingat keduanya tidak memiliki sengketa perbatasan.

"Kita bahkan punya Traktat Lombok 2006, yang intinya kedua negara bersepakat untuk tidak berperang satu sama lain," ungkapnya.

"Jadi kerja sama pertahanan Indonesia dan Australia yang erat merupakan suatu keniscayaan. Tinggal digali bentuk-bentuk kerja sama yang saling menguntungkan dan benar-benar menjaga sikap dan komunikasi yang tidak mencederai hal-hal baik yang telah terbangun selama ini," tutupnya.

(ads/ads)