Remaja Indonesia Ini Sabet Emas dan Perak di Olimpiade Matematika

Khairunnisa/Tim 20detik - detikNews
Minggu, 12 Sep 2021 06:46 WIB
Jakarta -

Memiliki prestasi di usia muda memang menjadi sebuah kebanggaan. Bukan hanya untuk diri sendiri dan orang-orang sekitar saja, tetapi negara juga ikut harum dibuatnya. Seperti halnya yang dilakukan Stanve Avrilium Widjaja (18) seorang siswa IPEKA BSD yang saat ini melanjutkan studinya di National Univesity of Singapore dengan program studi matematika.

Dari banyaknya perlombaan dan penghargaan yang ia raih, Stanve mampu meraih medali emas dalam ajang olimpiade bergengsi yakni International Mathematical Olympiad (IMO) 2020 dan Tuymaada 2020. Kemudian IMO 2021 Stanve juga berhasil meraih medali perak yang diselenggarakan di Rusia. IMO merupakan olimpiade berkelas di bidang sains terbesar di dunia bagi siswa-siswi SMA dengan soal tersulit di dunia.

"Yang paling berkesan si apa ya tetep IMO karena salah satu lomba dengan soal tersulit di dunia. Saingan terberat semua orang pasti dari negara-negara yang konsisten sih kayak Amerika itu USA terus China sama Rusia gitu, yang pelatihannya juga bukan dari sekolah atau komunitas lagi tapi sudah terpusat," ujar Stanve yang berbagi kisahnya dalam program Sosok di detikcom.

Sejak kecil Stanve sangat menyukai angka. Stanve juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan terkenal sebagai sosok yang ceria di lingkungan sekitarnya.

"Aku sering banget nanya-nanya gitu, aku nanya temen kira-kira aku nih kuatnya apa sih terus most people would say kalau aku tuh nggak pernah berhenti nanya. Jadi orang bilang aku ceria tapi mungkin cerianya karena suka nanya deh," cerita Stanve.

Selain bakat dan ketertarikannya pada matematika, prestasi Stanve tidak bisa lepas dari dukungan orang tuanya. Orang tua Stanve bisa menemukan minat anaknya pada matematika walau kondisi saat itu sebenarnya ada masalah.

"Konsen kita waktu kecil si sebenarnya kemampuan dia berbicara ya karena dia telat kan, 2 tahun dia belum bisa berbicara gitu. Jadi kita nggak mikirin dia pintar atau gimana waktu itu, sekedar bisa ngerumpi sama anak-anak lain aja udah bagus," ujar Robert Widjaja, orang tua Stanve.

Hal tersebut membuat orang tua Stanve mendaftarkannya sekolah serta kursus-kursus. Dan dari situlah potensi Stanve dengan angka terlihat dan akhirnya menduduki posisi peringkat satu nasional Kumon pada usia 3,5 tahun.

Dari usia yang masih kecil sampai sekarang sudah berusia 18 tahun, Stanve masih sangat menggemari pelajaran matematika. Bahkan berkat prestasinya di pelajaran ilmu hitung ini, Stanve sudah sampai keluar negeri untuk mewakili negara Indonesia mengikuti lomba matematika.

Namun, walaupun Stanve sudah dipercaya dan dikenal banyak orang sebagai orang yang pintar dalam pelajaran matematika, hal ini justru tidak membuat Stanve lupa diri. Stanve justru selalu menganggap dirinya rendah dari pada yang lain, meskipun sudah banyak mengantongi medali emas dan perak berkat juara olimpiade matematika.

"Ya, karena saya perhatikan melihat kelebihan dan juga kekurangan dia. Jadi Stanve tidak pernah menganggap dirinya itu non even close fair gitu dia selalu menganggap dirinya rendah. Nah ini kelemahan dia, dia merasa minder padahal levelnya sudah internasional sudah mengalahkan juara-juara terbaik dunia loh bukan Indonesia lagi. Nah kelebihannya juga sama karena dia merasa dirinya kurang, dia selalu belajar untuk meningkatkan diri bahkan pada saat saya merasa dia sudah cukup," cerita Robert Widjaja.

Berbeda dari sebagian besar anak lainnya yang menganggap matematika itu menjadi pelajaran yang sangat rumit dan menyebalkan. Bagi Stanve, matematika adalah layaknya kanvas bagi seorang pelukis menyampaikan ekspresi dirinya.

"Bagi aku kayak metematika itu kanvas bebas gitu di mana aku bisa trying of top thinks di mana aku ga perlu takut salah. Kalau misalnya salah kita sendiri bisa ngecek kalo kita salah atau engganya gitu. Jadi exactnya itu kaya no room for error, jadi kita bisa explore gitu," ujar Stanve sambil tersenyum.

(fuf/gah)