Empat Tahap Vaksin COVID-19 dari Berbagai Merek Tiba di Indonesia

Nurcholis Maarif - detikNews
Sabtu, 11 Sep 2021 09:31 WIB
Vaksin Johnson and Johnson diperkirakan masuk Indonesia bulan depan. Kehadiran vaksin satu kali suntik ini membuat vaksin COVID-19 kian beragam untuk masyarakat
Foto: AP Photo
Jakarta -

Indonesia kedatangan vaksin empat tahap sekaligus, yakni ke-52, 53, 54, dan 55 kemarin. Vaksin yang tiba berasal dari berbagai merek berbeda.

Pertama vaksin Pfizer berjumlah 639.990 dosis berupa vaksin jadi. Vaksin ini tiba pukul 09.15 WIB yang merupakan kedatangan vaksin tahap ke-52. Kemudian kedatangan tahap ke-53 berupa 2.079.000 dosis CoronaVac.

Lalu vaksin AstraZeneca dengan jumlah 615.000 dosis yang merupakan vaksin jadi, yang tiba pukul 10:10 WIB. Kemudian tahap ke-55 berupa vaksin AstraZeneca dalam bentuk jadi berjumlah 358.700 dosis yang merupakan hibah dari Pemerintah Perancis.

"Vaksin AstraZeneca ini merupakan bantuan dari pemerintah Perancis melalui mekanisme COVAX," ujar Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam keterangannya, dikutip Sabtu (11/9/2021).

Jika dihitung dari titik ketibaan, hingga kedatangan tahap ke-55 ini, maka jumlah vaksin yang tiba di Tanah Air hingga saat ini adalah 229.615.290 dosis vaksin, baik dalam bentuk bulk maupun yang telah jadi. Menurut Retno, kedatangan vaksin hibah dari Pemerintah Perancis ini merupakan tahap pertama dukungan kerja sama dose-sharing dari total komitmen 3 juta dosis.

"Atas nama pemerintah Indonesia saya ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Pemerintah Prancis atas solidaritas dan persahabatannya," kata Retno.

Retno menyebutkan bahwa saat ini masih terjadi ketimpangan distribusi vaksin di seluruh dunia. Dia memaparkan, 5,5 miliar dosis vaksin telah disuntikkan. Sebanyak 80% di antaranya di negara berpendapatan menengah dan tinggi.

WHO menargetkan 10% populasi setiap negara telah divaksinasi hingga akhir September 2021 ini. Retno menilai target WHO ini bisa dicapai oleh negara berpenghasilan tinggi. Sedangkan untuk negara berpendapatan rendah, saat ini belum ada yang mencapai target 10%.

Dia mengutip penelitian The Economist yang menyebutkan tanpa redistribusi surplus vaksin dari negara maju 1 sampai 2, diprediksi 8 juta nyawa bisa melayang. Untuk itu ke depannya, doses sharing akan menjadi penting.

Lebih lanjut Retno mengatakan Dirjen WHO mengharapkan komitmen dose sharing segera dipenuhi paling lambat akhir September 2021. COVAC pun mengeluarkan pernyataan serupa bahwa dose sharing dapat dilakukan dalam skala lebih besar.

"Target COVAC untuk menyalurkan 2 miliar dosis pada akhir 2021 menghadapi kendala. Termasuk larangan ekspor, kelangkaan pasokan dibanding permintaan, dan keterlambatan regulatory approval," ujarnya.

Dia mengingatkan masih banyak tantangan yang harus dilalui sebelum 'peperangan' ini dapat dimenangkan. Ia memastikan mesin diplomasi Indonesia akan terus bergerak dengan kecepatan penuh agar kebutuhan vaksin nasional dapat terpenuhi. Dengan tetap menyuarakan akses yang adil terhadap vaksin untuk semua negara.

"Dukungan rakyat Indonesia dengan melakukan vaksinasi dan disiplin protokol kesehatan sangat diperlukan. Ayo vaksinasi, dan kita jalankan protokol kesehatan. Insyaallah dengan ikhtiar kita semua dan kerja keras bersama, kedisiplinan, dan persatuan kita dapat keluar dari pandemi," kata Retno.

Sementara itu, Duta Besar Prancis untuk Indonesia Olivier Chambard mengatakan 358.700 dosis vaksin AstraZeneca merupakan tahap pertama dari total 3 juta komitmen pemerintah Perancis melalui fasilitas COVAC. Dia memastikan pemerintah Prancis mendukung program vaksinasi yang dilakukan Indonesia.

(ncm/ega)