Banyak Spesies Terancam Punah, Pencinta Burung Diminta Ikut Lestarikan

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Kamis, 09 Sep 2021 13:36 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan Indonesia merupakan negara keempat yang memiliki spesies burung terbesar di dunia mencapai sekitar 1.794 spesies. Namun akibat kerusakan hutan dan berbagai habitat asli, banyak di antara spesies burung tersebut yang terancam punah.
Foto: Dok. MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan Indonesia merupakan negara keempat yang memiliki spesies burung terbesar di dunia mencapai sekitar 1.794 spesies. Namun akibat kerusakan hutan dan berbagai habitat asli, banyak di antara spesies burung tersebut yang terancam punah.

Menurutnya, burung yang terancam punah tersebut termasuk untuk jenis burung berkicau yang menjadi keunggulan Indonesia. Seperti kucica hutan (copsychus malabaricus), cucak rawa (pycnonotus zeylanicus), jalak suren (gracupica contra), hingga burung kacamata atau pleci (zosterops japonicus)

"Komunitas pencinta burung harus menjadi bagian yang terlibat dalam mengedukasi warga untuk mencintai satwa, serta terlibat aktif dalam kegiatan penangkaran demi melestarikan burung khas Indonesia agar tidak punah," ujar dia dalam keterangannya, Kamis (9/9/2021).

"Jangan justru menjadi bagian dari kelompok yang memburu burung secara besar-besaran di habitat aslinya," imbuhnya saat Ngobras (Ngobrol Asyik) bersama Owner Radja Company dari komunitas Kicau Mania Prio Sutrisno, di Jakarta.

Pembina Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia (PKBSI) ini menjelaskan perputaran uang dalam bisnis burung sangat besar. Bisa mencapai Rp 1,8 triliun per tahun. Meliputi usaha sangkar, produsen vitamin, hingga pelatih untuk lomba burung berkicau.

Dia menuturkan selain menjadi berkah bagi perekonomian rakyat, besarnya perputaran uang tersebut juga bisa menjadi musibah karena menarik para pihak tidak bertanggungjawab melakukan perburuan liar secara besar-besaran.

"Karenanya, komunitas pencinta burung memiliki peran strategis untuk menjaga habitat burung di kawasan perhutanan, sekaligus melaporkan kepada pihak kepolisian apabila mendengar ada yang melakukan perburuan liar. Jangan biarkan karena keserakahan manusia, alam yang menjadi korban," jelas Bamsoet.

Ia mendapat laporan dari komunitas pecinta burung Kicau Mania, aktivitas usaha UMKM di dunia perburungan pun ikut terkena dampak pandemi COVID-19. Salah satunya dengan terhentinya kompetisi burung berkicau di berbagai daerah.

"Agar pandemi cepat berlalu, kita perlu bergotong royong membantu pemerintah memutus mata rantai penyebaran virus COVID-19. Komunitas Kicau Mania harus mengajak para anggotanya menjadi teladan di masyarakat, salah satunya dengan ikut vaksinasi. Mengingat masih banyak ditemui kelompok masyarakat yang enggan divaksinasi. Dengan vaksinasi, kita bisa segera mengadakan kontes burung berkicau lagi," pungkasnya.

(akd/ega)