Komplotan Penghipnosis Ibu-ibu Diciduk, Puluhan Kali Beraksi di Sulsel

Hasrul Nawir - detikNews
Kamis, 09 Sep 2021 11:05 WIB
Komplotan penipu dengan modus hipnotis ditangkap. Pelaku mengincar ibu-ibu. Mereka beraksi puluhan kali di berbagai wilayah di Sulsel. (dok Istimewa)
Komplotan penipu dengan modus hipnotis ditangkap. Pelaku mengincar ibu-ibu. Mereka beraksi puluhan kali di berbagai wilayah di Sulsel. (Dok. Istimewa)
Pinrang -

Polres Pinrang membekuk komplotan penipu dengan modus hipnosis. Pelaku adalah dua orang lelaki pengangguran berinisial ED (36) dan DA (42), serta AR (26) yang merupakan mahasiswa sebuah PTS di Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel).

"Para pelaku diamankan Selasa (7/9) kemarin di salah satu rumah kontrakan setelah sempat menjadi DPO," terang Kasat Reskrim Polres Pinrang AKP Deki Marizaldi, Kamis (9/9/2021).

Dari hasil penyelidikan sementara, menurut Deki, para pelaku sudah berkali-kali beraksi di sejumlah daerah di Sulsel.

"Ada 9 TKP di Kabupaten Pinrang dan 11 TKP di luar Pinrang yang diakui para pelaku seperti di Kota Parepare, Sidrap, Wajo, Bone, hingga Luwu Timur. Jadi mereka beraksi lintas provinsi juga dan termasuk jaringan dari pelaku hipnosis yang diamankan sebelumnya," bebernya.

Punya Beragam Skenario Hipnotis

Deki menjelaskan modus para pelaku dalam beraksi dengan berkeliling menggunakan mobil rental. Mayoritas korban dari komplotan ini adalah ibu-ibu.

"Ada yang berperan sebagai sopir dan penumpang, sasarannya rata-rata ibu-ibu yang hendak bepergian menggunakan kendaraan umum, ketika sudah ada calon korban, pelaku singgah menawarkan untuk diantar ke tempat tujuan dan menyamar sebagai mobil taksi gelap," paparnya.

Dalam perjalanan, kata Deki, para pelaku kemudian menjalankan aksinya sesuai dengan skenario yang telah dibuat para pelaku.

"Salah satu pelaku langsung memegang tangan kanan korban dan pura-pura meramal, lalu di situlah korban kemudian tidak sadar dan barang-barang berharga miliknya diambil, lalu diturunkan di tengah jalan," tandasnya.

Selain modus meramal, pelaku kerap menggunakan modus lain untuk memperdaya para korbannya.

"Pelaku berusaha meyakinkan korban untuk naik ke mobil dan pada saat di atas mobil salah satu terduga pelaku bertindak sebagai warga negara asing (WNA) mengeluarkan permata dari mulutnya dan berusaha meyakinkan korban bahwa WNA tersebut dapat memberkahi harta atau barang barang milik korban," jelasnya.

Korban lalu diminta menyerahkan uang atau perhiasan dan kemudian dimasukkan ke tas bersama permata tersebut. Korban dirayu melakukan hal tersebut agar uang atau perhiasannya diberkahi.

"Kemudian korban diturunkan di pinggir jalan," tuturnya.

Ketiga pelaku disangkakan Pasal 378 KUHP juncto Pasal 372 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke 1. Para pelaku terancam hukuman pidana 4 tahun penjara.

(jbr/jbr)