Kemen PPPA Minta Pendampingan Panjang ke Anak Dicongkel Mata demi Pesugihan

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
Rabu, 08 Sep 2021 16:30 WIB
Seorang anak perempuan di Sulsel harus dilarikan ke RS. Korban dicungkil matanya oleh orang tuanya diduga sebagai syarat belajar ilmu hitam. (dok Istimewa)
Seorang anak perempuan di Sulsel harus dilarikan ke RS. Korban dicungkil matanya oleh orang tuanya diduga sebagai syarat belajar ilmu hitam. (dok Istimewa)
Makassar -

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mendukung proses hukum kasus penganiayaan anak oleh orang tua demi pesugihan di Gowa, Sulawesi Selatan. Kemen PPPA meminta motif kekerasan tersebut diungkap jelas agar solusi perlindungan anak diberikan tepat sasaran.

"Perlu terus ditelusuri khususnya mengetahui motif para pelaku yang memicu para pelaku melakukan hal keji tersebut," jelas Deputi Perlindungan Khusus Anak Kemen PPPA, Nahar, dalam keterangannya, Rabu (8/9/2021).

Dia mengatakan kasus ini tidak selesai dengan penanganan dari kesehatan fisik saja. Motif kekerasan yang dilakukan pelaku harus diungkap.

"Entah itu motif ekonomi, kondisi kejiwaan, kebiasaan turun-temurun atau ada motif lainnya," katanya.

Nahar meminta hukuman yang diberikan kepada orang tua dapat diperberat apabila terbukti kasus ini merupakan kekerasan terhadap anak. Ia juga mengapresiasi pihak kepolisian setempat yang sudah menahan pelaku dan membawa korban ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

Dia meminta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinas PPPA) di Pemerintah Provinsi Sulsel maupun Kabupaten Gowa terus mendampingi korban.

Sebab, ortu kandung korban tengah menjalani proses hukum. Dan kakak korban juga sudah meninggal.

"Kami berharap pendampingan kepada korban tidak putus sampai di sini, karena ketiadaan orang tua kandung menjadi tantangan sendiri dalam memastikan pengasuhan pengganti," tutur Nahar.

Nahar berharap ada langkah-langkah bersama yang bisa diambil baik dari Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA), Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan pihak lainnya untuk terus memberikan pendampingan kepada korban selama proses penelusuran kasus berjalan.

Nahar mengungkapkan bahwa ketika bicara perlindungan anak, bukan cuma persoalan anak yang perlu diperhatikan. Peran orang tua seperti cara mengasuh dan cara membangun hubungan yang baik juga perlu diperhatikan untuk dapat memastikan tumbuh kembang anak terlaksana sebaik-baiknya.

Oleh karena itu, menurut Nahar, penelusuran kasus yang lebih lanjut sangat diperlukan untuk memahami kondisi keluarga tempat anak tersebut berada.

"Faktor lingkungan jadi penentu untuk melindungi anak. Saya khawatir kejadian sebelumnya dengan kakaknya mungkin karena tidak terpantau lingkungan sekitar, tapi saat korban berteriak dari lingkungan sekitarnya memberikan respons cepat sehingga korban bisa selamat dan dibawa ke rumah sakit. Sosialisasi penting sebagai pembelajaran bahwa jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi," tutur Nahar.

Nahar menambahkan perlindungan anak terhadap korban pasca-pulih secara fisik juga harus diperhatikan.

"Apabila orang tua korban ditetapkan sebagai tersangka atau secara kejiwaan tidak cukup layak untuk mengasuh, maka pengasuhan anak melalui kerabat dan atau pengasuhan alternatif, penempatan sementara dalam rumah aman dan pendampingan psikologis untuk anak, patut diupayakan sebagai langkah memberikan perlindungan dan menyelamatkan anak," tutup Nahar.

Simak juga video 'Bocah Korban Pesugihan Ortu Bakal Jalani Trauma Healing':

[Gambas:Video 20detik]



(fiq/jbr)