Menbudpar: Travel Warning Makin Tidak Pengaruhi Wisatawan

Menbudpar: Travel Warning Makin Tidak Pengaruhi Wisatawan

- detikNews
Rabu, 05 Apr 2006 16:07 WIB
Solo - Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar)Jero Wacik menilai semakin sering negara luar mengeluarkan travel warning akan semakin tidak didengar rakyatnya. Dia mengatakan travel warning yang dikeluarkan enam negara saat ini tidak banyak berpengaruh pada kunjungan wisatawan ke Indonesia."Saya sudah meminta kepada Pemprov Bali untuk melakukan quisioner kepada para turis. Terbukti mereka mengabaikan travel warning itu. semakin sering negara luar mengeluarkan travel warning akan semakin tidak didengar rakyatnya karena terbukti di sini aman-aman saja," kata Jero Wacik kepada wartawan saat berkunjung ke Istana Mangkunegaran Solo, Rabu (5/4/2006). Namun demikian, kata Jero, bukan berarti pihaknya tidak melakukan upaya dialog dengan pemerintah negara sahabat yang mengeluarkan travel warning. Dengan berbagai upaya itu, dari enam negara yang mengeluarkan travel warning, empat di antaranya telah menurunkan status. "Memang semuanya (enam negara) belum mencabut travel warning itu, tapi yang empat sudah menurunkan grade peringatannya. Sedangkan yang tetap belum bergeming adalah Amerika Serikat dan Australia, namun masih banyak juga warga kedua negara ini yang tetap datang kemari," paparnya. Tiga Beban KunjunganLebih lanjut, Jero Wacik mengakui bahwa hingga saat ini Indonesia memang mempunyai tiga beban besar dalam melakukan promosi kunjungan wisata. Antara lain yang paling menjadi beban terberat adalah teror bom yang sulit diatasi serta menimbulkan rasa takut yang luar biasa. Ketiganya adalah trauma wisatawan terhadap kemungkinan terjadinya kembali bencana tsunami di wilayah Indonesia, wabah flu burung yang melanda berbagai negara termasuk Indonesia yang paling parah, serta ancaman teroris yang beraksi melakukan perusakan dengan peledakan bom. "Dari ketiganya, beban yang ketiga (teror bom) adalah kendala paling berat bagi kami dalam melakukan promosi. Ini karena menyangkut rasa aman seseorang dalam melakukan kunjungan. Apalagi pelaku-pelaku bom yang sudah tertangkap adalah orang-orang dari (bangsa) kita sendiri," paparnya. "Namun kami terus meyakinkan bahwa kita benar-benar serius memberantasnya. Banyak dari calon wisatawan yang telah berhasil diyakinkan namun masih ada juga yang ragu-ragu. Karena itu kami perlu mengajak wartawan media massa dari masing-masing negara potensial wisatawan untuk datang dan menulis secara objektif. Bagi kami prinsipnya adalah seeing is believing," lanjut dia. (asy/)


Berita Terkait