Ini Alasan Unsoed Beri Gelar Profesor Hukum Pidana ke Jaksa Agung

Arbi Anugrah - detikNews
Senin, 06 Sep 2021 20:06 WIB
Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Rabu (27/3/2019).
Universitas Jenderal Soedirman (Arbi Anugrah/detikcom)
Purwokerto -

Jaksa Agung ST Burhanuddin akan mendapatkan gelar profesor hukum dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Kabupaten Banyumas. Pemilihan ST Burhanuddin oleh Unsoed karena beberapa alasan.

"Satu alasannya di peraturan pemerintah di Kemenristekdikti itu memperbolehkan, aturan rujukan pengangkatan permenristekdikti membolehkan. Kemudian alasan praktisnya bahwa beliau selama ini adalah dosen LB (luar biasa) Fakultas Hukum Unsoed," kata guru besar Unsoed, Prof Hibnu Nugroho, saat dihubungi detikcom, Senin (6/9/2021).

Selain alasan tersebut, Hibnu menjelaskan tentang alasan keilmuan yang menjadikan ST Burhanuddin layak mendapatkan gelar Profesor Kehormatan dari Unsoed. Salah satunya, inovasi dalam penerapan restorative justice (RJ).

"Alasan keilmuannya, beliau mempunyai keilmuan yang luar biasa di dalam penerapan restorative justice," ujarnya.

Dia menjelaskan jika dengan penerapan RJ ini, ke depannya dapat mengurangi overkapasitas di lembaga pemasyarakatan (LP) yang ada di Indonesia.

"Ke depannya insyaallah bisa mengurangi lembaga pemasyarakatan yang sudah overkapasitas. Itu langkah tepat, hari ini pun jaksa agung sudah memberikan RJ kalau tidak salah 320 perkara di penyelesaian mediasi," ucapnya.

Menurut Hibnu, jika kewenangan tersebut diterapkan pada 10 persen perkara RJ, itu sudah dapat mengurangi banyak overkapasitas di lembaga pemasyarakatan.

"Iya inovasi keilmuan yang bisa dikembangkan terus, karena RJ itu suatu model peradilan yang di common law, yang di civil law tidak ada. Semua curi sendal pun dipidana, jadi ke depannya Kejaksaan Agung sebagai pengendali perkara atas namanya dominus litis, ini punya peran ke depannya untuk restorative justice," jelasnya.

Dia mengatakan, jika keilmuan ini diterapkan, itu dapat membantu pemerintah dalam mengurangi kepadatan di dalam LP.

"Ini keilmuan yang penting, saya kira ini keilmuan abad baru karena bukan dalam keadaan civil common, bukan ranah civil law, ini suasana baru yang bisa diterapkan di Indonesia. Jadi jangan sampai ke depannya itu semua kasus peradilan berujung pada pidana, di sinilah diperlukan restorative justice, mediasi, mediator yang betul betul bisa menjembatani antara kepentingan korban dan kepentingan masyarakat dan kepentingan pelapor, ini yang penting," ujarnya.

Sementara itu, menurut Rektor Unsoed Purwokerto Prof Suwarto saat dihubungi terpisah mengatakan pemilihan ST Burhanuddin untuk mendapatkan gelar profesor karena berbagai pertimbangan. Khususnya pemikirannya yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Pengukuhan gelar profesor tersebut rencananya akan dilaksanakan di Auditorium Graha Widyatama Unsoed pada Jumat, 10 September 2021. Pihaknya pun telah mendapatkan izin dari Gugus Tugas Penanganan COVID-19 tingkat kabupaten untuk mengadakan kegiatan tersebut.

"Jumat pengukuhan pemberian gelar secara hybrid, karena kita menerapkan protokol kesehatan secara ketat, saya juga sudah izin ke Gugus COVID-19 Kabupaten dan diizinkan. Jaksa Agung nanti datang ke sini, tapi dibatasi jumlahnya dan harus ada swab dan sebagainya," ujar Suwarto.

(jbr/jbr)