Terungkap! Ini Motif KKB Serang Posramil di Maybrat hingga 4 TNI Gugur

Audrey Santoso - detikNews
Senin, 06 Sep 2021 11:06 WIB
Empat peti Jenazah anggota TNI korban serangan separatis berada di Aula Praja Vira Tama Markas Komando Korem 181/PVT Kota Sorong, Papua Barat, Kamis (2/9/21). Empat jenazah prajurit TNI AD, korban penyerangan Kelompok Saparatis Teroris (KST) di Pos persiapan Koramil Kisor Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Papua Barat tiba dan disemayamkan di Kota Sorong untuk selanjutnya akan diterbangkan ke daerah masing-masing. ANTARA FOTO/Olha Mulalinda/rwa.
Empat peti Jenazah prajurit Posramil Kisor, Maybrat, Papua Barat, korban serangan kelompok separatis disemayamkan di Aula Praja Vira Tama Markas Komando Korem 181/PVT Kota Sorong, Papua Barat, Kamis (2/9/21). (ANTARA FOTO/OLHA MULALINDA)
Jakarta -

Tiga pelaku penyerang Posramil Kisor, Distrik Aifat Selatan, Maybrat, Papua Barat, yang menyebabkan empat anggota TNI gugur menjalani pemeriksaan intensif. Saat diperiksa, mereka mengungkapkan pemicu penyerangan.

"Karena mereka berseberangan dengan NKRI. Mereka merasa berseberangan. Kami kan mengajak masyarakat yang baik, ayo membangun kampung, ayo belajar bersama-sama, ayo kita produktif, ayo kita ibadah bersama-sama," kata Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVIII/Kasuari Kolonel Art Hendra Pasilerron kepada detikcom, Senin (6/9/2021).

"Bahwa masyarakat Papua sudah cerdas dan malah sudah muak dengan ajakan-ajakan, teriakan-teriakan 'Papua Merdeka'. Mereka ingin hidup tenang dan damai untuk masa depan anak-anak dan generasi muda ke depan membangun Papua di bawah NKRI," lanjut Hendra.

Hendra mencontohkan saat momen Kemerdekaan RI ke-76. Menurut dia, warga setempat terlihat antusias.

"17 Agustus kemarin ramai di sini. Masyarakat antusias sekali memperingatinya," ujar Hendra.

Hendra menyimpulkan, dari hasil pemeriksaan, kelompok separatis teroris (KST) pimpinan Manfet Patem iri dengan pengaruhnya di masyarakat yang terkikis. Mereka lantas menyerang Posramil Kisor.

"Dari hasil interogasi kita kepada yang sudah ditangkap, bisa diambil kesimpulan awal mereka gerah. Mereka merasa apa yang mereka yakini, ideologi mereka kalah dengan Pancasila," ungkap Hendra.

Hendra menyebut memang masyarakat Maybrat sudah menyadari pengaruh negatif KST dalam keseharian mereka. Masyarakat di Papua Barat, sebut Hendra, menyibukkan diri dengan hal-hal yang dianggap positif.

"Masyarakat sendiri kan seiring waktu yang merasakan sendiri, kok ajaran mereka (KST) tidak benar. Lebih banyak manfaatnya menggali potensi diri dan memajukan kampung kita, tanah kita, masyarakat kita dengan rajin belajar, beribadah, bersaudara, terus bekerja," tutur Hendra.

"Itu mereka (KST) merasa pengaruh mereka kalah. masyarakat tidak bisa dipengaruhi untuk melakukan kekerasan dan teror-teror seperti yang mereka ajarkan," imbuh dia.

Hendra juga menyebut peristiwa penyerangan Posramil Kisor mencengangkan banyak pihak di Papua Barat. Dia pun menegaskan KST bukan cerminan karakter warga Papua.

"Semua tercengang. Tetapi saya katakan, orang yang sudah berbuat keji dan sadis seperti itu bukan orang Papua. Saya yakin bahwa tanah Papua adalah tanah yang diberkati, tanah Injil. Makanya di sini itu setahu kami orang Papua berhati lembut, cinta kasih," ucap Hendra.

"Kalau kita di Jawa, kita ke pasar, belanja pakai bahasa Jawa nawarnya. Kalau di Papua ini Indonesia banget, semua suku ada di sini, pakai Bahasa Indonesia. Masyarakat setempat ini orang yang terbuka, mereka penuh kasih, penuh persaudaraan," sambung Hendra.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.

Saksikan video 'Gebrakan Meja Pangdam Kasuari Kala 4 Anggotanya Dibunuh KKB':

[Gambas:Video 20detik]