Kontroversi Bupati Banjarnegara: Sebut Luhut Penjahit-Kini Tersangka Korupsi

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 04 Sep 2021 08:37 WIB
Jakarta -

Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus dugaan korupsi terkait pengadaan pada Dinas PUPR Pemkab Banjarnegara tahun 2017-2018. Budhi sempat membuat sejumlah kontroversi sebelum menyandang status tersangka.

Ada dugaan penerimaan gratifikasi dalam proses pengadaan di Dinas PUPR Pemkab Banjarnegara. Indikasinya, gratifikasi Rp 2,1 miliar mengalir ke kocek Budhi.

"Setelah KPK melakukan penyelidikan maka kita tentu menemukan adanya bukti permulaan cukup dan kita tingkatkan ke penyidikan, malam hari ini sampaikan rekan-rekan atas kerja keras tersebut, menetapkan dua tersangka antara lain BS yaitu Bupati Kabupaten Banjarnegara periode 2017-2022, tersangka kedua KA, pihak swasta," kata Ketua KPK, Firli Bahuri, dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Jumat (3/9/2021).

Budhi diduga melanggar Pasal 12 huruf i dan/atau pasal 12B Undang-Undang (UU) tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Terkait kontroversi Budhi, yang paling menyita perhatian ketika menyinggung nama Menko Kemaritiman dan Investasi (Marves) Luhut Binsar Pandjaitan. Budhi menyinggung Luhut dalam sebuah video tersebar di Twitter.

Berikut sederet kontroversi Budhi:

Sebut Luhut 'Penjahit'

Dalam video berdurasi 1 menit 17 detik yang diunggah oleh Ferdinand Hutahaean di akun Twitter miliknya, Senin (23/8/2021) pukul 06.08 WIB, Budhi awalnya melaporkan perihal perkembangan kasus COVID-19 di Banjarnegara. Salah satu hal yang dilaporkan perihal bed occupancy rate (BOR) untuk pasien COVID-19 yang ada di Banjarnegara.

"Alhamdulillah Banjarnegara dulu BOR 99 persen, turunlah PPKM Darurat. Saya baca aturannya sesuai saran Pak Presiden yang langsung ditindaklanjuti oleh Menteri Dalam Negeri," ujar Budhi dalam potongan video tersebut.

Pernyataan Budhi yang menyinggung Luhut satu rangkaian dengan laporan soal BOR. Budhi seolah lupa dengan nama Luhut.

"Dan dilaksanakan pada waktu itu rapat sama menteri siapa itu, penjahit, yang orang Batak itu, ya pak penjahit. Dilaksanakan PPKM darurat sampai sekarang PPKM level 4, level 3 ternyata dengan adanya pembagian jaring pengaman sosial ini sangat efektif dan efisien," sebut Budhi.

Saat dimintai konfirmasi perihal viralnya potongan video, Budhi membenarkan yang ada dalam video tersebut adalah dirinya. Kala itu ada kegiatan pembagian jaring pengaman sosial di Desa Bawang, Kabupaten Banjarnegara, Sabtu (21/8).

Kini persoalan 'penjahit' itu sudah selesai. Budhi sudah meminta maaf, dan Luhut pun menerima.

"Ya kalau sudah minta maaf tidak apa-apa, dimaafkan. Sekarang banyak pelaku sebar fitnah sana-sini ketika diminta membuktikan tidak bisa tetap tidak mau minta maaf. Kita apresiasi aja yang masih mau minta maaf," ucap juru bicara Menko Marves, Jodi Mahardi, Selasa (24/8).

Budhi juga pernah membuat kontroversi karena menyebut Gus Dur 'picek'. Baca di halaman berikutnya.