KSP Tanggapi Skenario Pascapandemi yang Disodorkan Aliansi Ilmuwan

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Jumat, 03 Sep 2021 11:26 WIB
Deputi II Kantor Staf Presiden (KSP) Bidang Pembangunan Manusia, Abetnego Tarigan,
Abetnego Tarigan (Foto: dok. KSP)
Jakarta -

Kantor Staf Presiden (KSP) menanggapi skenario pascapandemi COVID-19 yang disodorkan Aliansi Ilmuwan Indonesia untuk Penyelesaian Pandemi. KSP menegaskan terbuka atas usulan tersebut.

"Pemerintah terbuka dengan usulan tentang skenario dari pandemi ke endemi. Tentu rumusan skenario menjadi sangat penting agar pascapuncak kasus pandemi Juni sampai Agustus yang lalu, ada arah ke depannya," kata Deputi II KSP, Abetnego Tarigan, kepada wartawan, Jumat (3/9/2021).

Abetnego mengatakan perlu kajian lebih lanjut terkait skenario pascapandemi. Keberagaman kondisi di daerah dinilai perlu menjadi pertimbangan.

"Tentu perlu pembahasan yang lebih jauh, termasuk mempertimbangkan keberagaman situasi dan kapasitas di daerah dalam penanganan pandemi," ujar dia.

Abetnego juga menekankan mengenai pesan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Disiplin protokol kesehatan tetap menjadi kunci utama.

"Bapak Presiden mengingatkan bahwa harus tetap optimistis tapi jangan euforia. Kewaspadaan harus tetap tinggi dan program harus terus dipercepat seperti protokol kesehatan dan vaksin," imbuh dia.

Sebelumnya diberitakan, Aliansi Ilmuwan Indonesia untuk Penyelesaian Pandemi menawarkan skenario pascapandemi COVID-19. Skenario ini dibuat agar Indonesia bisa lolos dari ketidakpastian pandemi Corona.

Aliansi Ilmuwan ini terdiri atas Sulfikar Amir PhD (Nanyang Technological University), Pandu Riono PhD (Universitas Indonesia), Irma Hidayana PhD (LaporCovid19.org/St Lawrence University), Iqbal Elyazar PhD (Eijkman-Oxford Clinical Research Unit), Ines Atmosukarto PhD (Australian National University), Yanuar Nugrogo PhD (ISEAS-Yusof Ishak Institute), Arief Anshory Yusuf PhD (Universitas Padjadjaran), Septian Hartono PhD (Duke-NUS Graduate Medical School), dan Dicky Pelupessy PhD (Universitas Indonesia).

Aliansi Ilmuwan menawarkan skenario ini karena pandemi di Indonesia masih jauh dari berakhir. Selama Juli, Aliansi Ilmuwan mencatat jumlah warga Indonesia yang meninggal karena COVID-19 menyumbang 30 persen dari total mortalitas angka resmi. Harapan pandemi berakhir memudar setelah serangan varian Delta.

"Sempat muncul harapan bahwa pandemi ini akan segera berakhir ketika program vaksinasi mulai dilakukan pada awal 2021. Harapan itu memudar ketika varian Delta dengan daya tular berkali-kali lipat masuk ke Indonesia dan memicu laju penularan yang lebih dahsyat," tulis Aliansi Ilmuwan dalam keterangan tertulis, Rabu (1/9).

Berangkat dari sini, Aliansi Ilmuwan mengusulkan jalan keluar, yakni Skenario Pasca Pandemi. Disebut skenario karena untuk keluar dari suatu krisis yang penuh dengan ketidakpastian, kita harus mampu menyusun suatu proses yang akan kita lewati untuk mencapai tujuan akhir.

Ada tiga prinsip utama dalam skenario pascapandemi, yakni empathy, equity, dan episteme. Empathy adalah kepedulian dan rasa welas asih terhadap sesama yang menjadi fondasi dalam penanganan setiap krisis kemanusiaan. Equity adalah kesetaraan dan keadilan yang menjamin akses bagi seluruh warga tanpa diskriminasi dalam mendapatkan hak hidup sehat dan bahagia. Terakhir, episteme adalah pengetahuan ilmiah yang sangat dibutuhkan sebagai lentera dalam mengarungi ketidakpastian dan risiko pandemi.

(knv/tor)