Wapres: Banyak Provinsi Belum Sentuh Masalah Limbah COVID

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Rabu, 01 Sep 2021 00:30 WIB
Wapres KH Maruf Amin, Blak-blakan 19 Juli 2021
Foto: Screenshoot 20detik
Jakarta -

Penanganan limbah medis infeksius COVID-19 merupakan bagian penting dari upaya mengatasi pandemi COVID-19. Sebab limbah medis infeksius COVID-19, selain tergolong limbah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3), juga berpotensi menjadi sumber penularan.

Kendati begitu, Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengakui saat ini persoalan limbah medis COVID-19 belum mendapatkan perhatian khusus. Hal ini dikarenakan pengendalian penularan COVID-19 di daerah masih fokus pada tracing, testing, dan treatment.

"Hasil pertemuan saya dengan beberapa provinsi, itu memang banyak provinsi yang belum menyentuh masalah limbah ini, padahal semakin hari limbah ini semakin besar," ujarnya dikutip dari situs resmi Setkab Rabu (1/9/2021).

Oleh karenanya, dia mengapresiasi inisiatif Asosiasi Produsen Insinerator Indonesia (APII) yang berencana membantu pemerintah mempercepat penanganan limbah medis infeksius COVID-19 ini

"Saya menyambut baik inisiatif APII untuk membantu mempercepat proses penanganan limbah B3 yang memang sekarang sedang diperlukan. Karena pemerintah sedang mulai menggarap masalah penanganan limbah Covid-19 ini," ungkapnya saat menerima audiensi jajaran pengurus APII melalui konferensi video.

Lebih lanjut, dia berpesan kepada APII agar segera menghubungi berbagai pihak yang terkait untuk merealisasikan inisiatifnya. Misalnya mengenai masalah kualitas produk insinerator, APII diminta agar berkonsultasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

"Saya sarankan pertama untuk standar mutu insinerator supaya berkomunikasi atau berkoordinasi dengan KLHK dan BRIN supaya memperoleh standardisasi," pintanya.

Selanjutnya, terkait penanganan limbah COVID-19, Wapres meminta APII agar berkoordinasi dengan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 baik di tingkat pusat maupun daerah.

"Kemudian untuk membantu pemerintah, kita rekomendasikan supaya berkoordinasi dengan Satgas Penanganan COVID-19 di tingkat pusat (yakni) BNPB dan juga Satgas di daerah," jelasnya.

Sebelumnya, pada kesempatan ini Ketua APII Rudy Indra Wardhana melaporkan bahwa APII yang merupakan wadah para produsen insinerator di Indonesia ingin membantu pemerintah dalam upaya menangani limbah medis infeksius COVID-19. Ia pun meyakinkan bahwa produk insinerator yang dihasilkan APII dapat mengolah limbah secara efektif dan ramah lingkungan.

"Berkenaan dengan program pemerintah untuk mengatasi limbah Covid-19 yang cukup banyak dan tidak bisa dibuang sembarangan, maka alat insinerator ini sangat efektif karena bisa membakar (limbah) tanpa menimbulkan asap yang mencemari lingkungan," paparnya.

Selanjutnya, Anggota APII Aditya Vilyanto menambahkan produk insinerator APII dapat dipertanggungjawabkan secara kualitas dan kuantitas karena meskipun buatan dalam negeri tetapi telah mengadopsi teknologi dari beberapa negara lain.

"Kami mohon pemerintah dapat mendukung produk dalam negeri. Kita sebagai industri nasional sangat mampu untuk memproduksi mesin insinerator ini," pungkasnya.

(akd/ega)