Kudus Sukses Kendalikan Lonjakan COVID, Ini Tipsnya Kata Bupati

Angga Laraspati - detikNews
Selasa, 31 Agu 2021 19:54 WIB
Kabupaten Kudus, Jawa Tengah menjadi zona merah penyebaran virus Corona atau COVID-19. Lalu bagaimana kondisi Kudus saat ini?
Foto: Dian Utoro Aji
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, lonjakan kasus COVID-19 di Kudus, Jawa Tengah menyedot perhatian publik. Dari data Satgas Penanganan COVID-19 jumlah kasus positif di kota ini melonjak hingga 30 kali lipat dalam waktu sepekan. Namun, kini kasus COVID-19 di Kudus sudah terkendali.

"Sekarang situasi kasus COVID-19 di Kudus sudah sangat landai, dengan penerapan PPKM Level 2," ungkap Bupati Kabupaten Kudus H.M Hartopo dalam keterangan tertulis, Selasa (31/8/2021). Hal ini dia ungkapkan dalam dialog virtual Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) KPCPEN bertajuk 'Dialog Semangat Selasa'.

Hartopo mengakui jika lonjakan kasus pada pertengahan Juni 2021 lalu dipicu oleh mobilitas masyarakat yang tinggi dalam rangka menjalankan tradisi hari raya. Namun begitu, pemerintah kabupaten langsung merespons dengan cepat.

Beberapa kunci pengendalian yang dapat dipelajari antara lain adalah penguatan testing, tracing, treatment (3T), termasuk penyediaan isolasi terpusat di kabupaten dan desa agar tidak terjadi klaster keluarga. Kudus juga mengaktifkan sistem kolaborasi jogo tonggo (menjaga tetangga) dengan melibatkan relawan, pokdarwis, karang taruna, PKK.

"Dalam jogo tonggo, yang sehat membantu yang sakit, yang kaya membantu yang miskin. Selain itu, kami selalu melakukan update data mulai dari zonasi terkecil, yaitu dari tingkat RT. Dengan demikian, kami bisa saling memantau dan bila ada masalah segera tertangani," jelasnya.

Dia menuturkan upaya lain adalah menggenjot percepatan vaksinasi dengan bersinergi bersama pihak swasta, aparat, dan masyarakat. Saat ini, cakupan vaksinasi di Kudus adalah 24% untuk dosis 1 dan 20% untuk dosis lengkap.

Akselerasi vaksinasi COVID-19 juga masih berlangsung di berbagai daerah. Upaya peningkatan cakupan vaksinasi, antara lain dilakukan dengan menyediakan fasilitas pelayanan vaksinasi massal, vaksinasi keliling, vaksinasi terapung, hingga vaksinasi dari rumah ke rumah.

Terkait distribusi vaksin ke daerah, Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menjelaskan bahwa pembagian vaksin dilakukan dengan banyak pertimbangan, di antaranya jumlah penduduk, laju penularan, serta varian virus yang beredar.

"Pemerintah berkomitmen, ketersediaan vaksin akan terus ditingkatkan. Melalui koordinasi dengan daerah, pembagian sasaran dan prioritas vaksin juga diatur dengan cermat," ungkapnya.

Nadia juga menegaskan mengenai proteksi kondisi Tenaga Kesehatan (Nakes) di Kudus pada saat lonjakan kasus, bahwa mereka telah 100% mendapatkan suntikan vaksin. 90% Nakes dengan kasus positif di Kudus saat itu, tidak memiliki gejala berat dan sekarang sudah beraktivitas kembali. Bagi mereka, pemerintah juga menyiapkan vaksin booster sebagai perlindungan tambahan.

Sementara itu, Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian RS UNS Surakarta dr. Tonang Dwi Ardyanto memaparkan beberapa hal yang menjadi pelajaran dari peristiwa di Kudus, bahwa lonjakan kasus COVID-19 bisa terjadi di kota kecil tanpa akses transportasi besar seperti bandara atau pelabuhan.

Selain percepatan vaksinasi, menurut dr. Tonang penguatan testing dan tracing juga harus selalu dijaga kendati jumlah kasus sedang tidak tinggi. Tujuannya, agar perkembangan kasus dapat terdeteksi lebih dini sehingga segera tertangani.

"Sebagai wujud rasa syukur, kita harus dapat belajar dari pengalaman yang lalu, agar tidak terjadi lagi. Disiplin protokol kesehatan, vaksinasi dan menjaga pelaksanaan 3T di lapangan, tetap menjadi kunci penanganan pandemi," pungkasnya.

(ega/ega)