DNA Manusia Purba Tertua di Maros Bukti Ada Ras Lain yang Huni Indonesia

Muhammad Taufiqqurrahman - detikNews
Selasa, 31 Agu 2021 14:10 WIB
Editable vector silhouettes of cavemen hunters on patrol
Foto ilustrasi manusia purba. (Getty Images/iStockphoto/AdrianHillman)
Maros -

Tim peneliti Australia, Indonesia, dan Jerman berhasil mengungkap DNA dari fosil manusia purba di Maros, Sulsel, yang diperkirakan wanita remaja yang memiliki DNA Denisovan. Penemuan menunjukkan bahwa ada ras selain Austromelanesoid dan Mongoloid yang menghuni Indonesia.

Ras Denisovan merupakan sepupu jauh manusia Neanderthal yang fosilnya hanya ditemukan di Siberia dan Tibet. DNA kerangka yang dinamai 'Besse', yang berarti 'perempuan' dalam bahasa Bugis-Makassar, ini diketahui memiliki DNA yang sama dengan penduduk asli Australia dan DNA orang Melanesia.

"Dari segi DNA itu diketahui bahwa DNA yang terkandung dalam rangka itu selain mengandung DNA yang merupakan nenek moyang atau kerabat dengan orang Papua dan Aborigin di Australia juga kemudian mengandung DNA Denisovan. Denisovan ini diperkirakan lebih tua umurnya dibanding dengan DNA Australia monosit atau nenek moyang langsung dari bangsa Papua dan Aborigin yang ada di Australia," kata Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Prof Akin Duli, saat memaparkan temuannya kepada wartawan, Selasa (31/8/2021).

Kerangka yang ditemukan di Leang Panning (Gua Kelelawar) di Mallawa, Maros, Sulsel, ini dianggap sangat penting dalam pengetahuan soal sejarah dan peradaban karena merupakan kerangka tertua yang ditemukan sejauh ini. Hal ini disebabkan selama ini temuan yang didapatkan oleh para arkeolog hanya pada hasil kebudayaan manusia purba seperti lukisan tertua di dunia yang berusia 45 ribu tahun.

Menurutnya, DNA Denisovan ini tidak menurun langsung ke orang Bugis-Makassar malahan dekat orang Papua dan Aborigin. Meski begitu, perlu penelitian lebih lanjut soal ini, termasuk soal kemungkinan adanya orang-orang dari suku Bugis-Makassar yang memiliki DNA ini.

Sementara itu, arkeolog Unhas Iwan Sumantri melihat penemuan kerangka Besse menunjukkan bahwa Indonesia dihuni oleh campuran ras di masa lalu, sehingga akan tidak ada satu pihak yang berhak mengklaim sebagai penduduk asli Indonesia. Tidak hanya itu, penemuan ini bisa menjadi harapan untuk menjawab siapa pembuat karya-karya lukisan purba yang indah di gua-gua prasejarah di Sulsel.

"Selama ini kami menemukan gua prasejarah, hanya menemukan dan melihat adanya sisa budaya prasejarah baik lukisan dinding gua. kita hanya menemukan petunjuk budaya prasejarah, ada yang 2000 tahun ada 40 ribu tahun, telapak tangan ada gambar babi rusa, pertanyaan siapa yang gambar? Nah ini menunjukkan ada satu kecerdasan yang mereka miliki, lalu siapa bikin?" terang dia.

Dia menambahkan, secara garis besar, wilayah Wallacea sangat penting karena banyak fenomena biologis yang ditemukan. Di Sulsel, misalnya, pihaknya tidak pernah menyangka bahwa gajah pernah di hidup, mulai dari gajah purba dan jenis gajah lainnya, termasuk dua jenis anoa.

Sebelumnya, Profesor Adam Brumm dari Griffith University Australia yang memimpin penelitian di gua-gua yang kini masuk dalam wilayah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep, menjelaskan Besse merupakan orang Toalean yang hidup antara 8.000 dan 1.500 tahun lalu. "Orang Toalean merupakan manusia pemburu-pengumpul awal yang hidup di hutan-hutan Sulawesi Selatan, berburu babi dan mengumpulkan kerang dari sungai-sungai," kata Prof Adam.

Para arkeolog telah lama memperdebatkan asal-usul orang Toalean. Namun, analisis DNA Besse telah mengkonfirmasi bahwa orang Toalean terkait dengan manusia modern pertama yang memasuki kawasan Wallacea sekitar 65.000 tahun yang lalu, yaitu nenek moyang orang Aborigin Australia dan orang Melanesia.

Lihat juga Video: Studi: Hanya 7% Populasi Dunia yang Punya DNA Unik 'Manusia Modern'

[Gambas:Video 20detik]



(tfq/nvl)