e-Life

Soal Childfree, Komnas Perempuan: Punya Anak Itu Fardhu Kifayah

dtv - detikNews
Selasa, 31 Agu 2021 10:39 WIB
Jakarta -

Komisioner Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan), Prof. Alimatul Qibtiyah, S.Ag. M.Si. MA. Ph.D turut menanggapi pilihan seseorang, terutama wanita, untuk tidak memiliki anak. Menurutnya pilihan itu harus dihargai.

"Yang perlu kita pahami adalah keragaman pengalaman perempuan yang harus dihargai. Apapun pilihannya, dan pilihan sadar dengan segala macam konsekuensinya. Memang sih, perempuan itu secara kodrati dapat melahirkan, tetapi mau melahirkan atau tidak, mau punya anak berapa, mau kapan punya anak, itu konstruksi. Yang mana konstruksi itu sangat dipengaruhi oleh bagaimana penafsiran agama, bagimana budaya, bagaimana situasi sosial psikologis dalam hidupnya yang kemudian menentukan pilihan-pilihan itu," papar Alimatul dalam program e-Life di detikcom.

Ketika perempuan memilih hidup childfree atau tidak memiliki anak, mereka kerap mendapat penghakiman dari orang sekitarnya. Hal ini juga digarisbawahi oleh Alimatul.

"Kita tidak boleh melakukan judgement ya. Itu nanti implikasinya juga kepada perempuan yang menikah, sudah berusaha punya anak, tapi tidak juga punya anak. Sehingga nanti sudah berusaha begitu jadi tidak sempurna juga begitu ya kalau kemudian itu nanti apa ada penilaian negatif terhadap itu gitu," jelasnya.

Alimatul menekankan bahwa terdapat juga beragam pehamaman mengenai pernikahan dan konstruksi yang membentuk pola pikir perempuan.

"Di masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim, itu ya memang ada pemahaman-pemahaman ya bahwa menikah itu adalah separuh dari agama, kemudian menikah itu adalah salah satunya adalah untuk menyeimbangkan keturunan supaya ada keturunan. Bahkan saya tidak tau lupa siapa yang mengatakan bahwa menikah dan punya anak itu adalah fardhu kifayah. Fardhu kifayah itu harus ada sekelompok yang mau melahirkan, kalau tidak nanti semua orang tidak mau melahirkan bagaimana keseimbangan bumi ini. Nah itu juga ada pemahaman-pemahaman seperti itu," lanjutnya.

Tak kalah penting, perlu dicatat bahwa perempuan berhak atas tubuhnya sendiri.

"Komnas Perempuan sendiri sangat meneguhkan perempuan tuh punya hak terhadap tubuhnya. Bukan pasangan, bukan suaminya yang menentukan tubuhnya tetapi bagaimana perempuan tuh punya hak terhadap tubuh nya sendiri. Dan ketika menikah, hak itu dapat dibicarakan kepada pasangannya gitu," katanya.

Pada akhirnya, setiap pilihan yang dibuat oleh seseorang harus melalui proses pertimbangan yang memberdayakan, termasuk pilihan untuk memiliki atau tidak memiliki anak. "Yang kita sangat harapkan adalah pilihan itu adalah pilihan yang berdaya, pilihan yang sadar dan betul-betul memahami segala macam konsekuensinya," tutur Alimatul.

(gah/gah)