Ayah Saya Wafat, Apakah Menutup Rekening Banknya Harus ke Pengadilan Dulu?

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 27 Agu 2021 07:56 WIB
Ilustrasi Uang Rupiah
Ilustrasi uang (Foto: Ari Saputra-detikcom)
Jakarta -

Pascameninggalnya orang akan menimbulkan hak keperdataan baru bagi para keluarga yang ditinggalkan, salah satunya terkait warisan. Bagaimana bila ternyata yang meninggal punya uang di rekening bank? Bagaimana prosedur mencairkannya?

Bagi yang memiliki jumlah rekening di bank sedikit, tentu tinggal mengambil di ATM. Tapi bagaimana bila uang di bank dalam jumlah miliaran, tentu sangat merepotkan. Berikut pertanyaan yang didapat detik's Advocate:

Ayah saya meninggal dan memiliki tabungan di bank. Para ahli waris sepakat untuk membaginya. Apa benar harus meminta penetapan ke pengadilan untuk menutup rekening tersebut? Apa dasar hukumnya?

Terimakasih sebelumnya

Untuk menjawab permasalahan di atas, detik's Advocate menghubungi advokat Moch Ainul Yaqin, SHI, MH. Berikut pendapat hukumnya:

Pertama perlu saya sampaikan, menutup rekening bank (tabungan) orang yang sudah meninggal memang terdapat serangkaian prosedur yang harus dijalani. Terutama mengenai kelengkapan berkas-berkas yang diperlukan, hal ini tergantung dari kebijakan masing-masing pihak bank. Jadi sebelum melakukan penutupan rekening bank, langkah awal lebih baik untuk mendatangi bank yang dimaksud untuk konfirmasi atau konsultasi mengenai syarat dan berkas apa saja yang diperlukan. Hal ini untuk menghindari bolak-balik ke bank hanya karena syaratnya tidak terpenuhi atau berkas kurang lengkap.

Namun secara umum, permohonan penutupan rekening bank bagi orang yang sudah meninggal harus dilakukan oleh ahli warisnya. Sehingga diperlukan adanya surat keterangan ahli waris, tentunya juga syarat-syarat pendukung lainnya. Mengenai siapa yang menjadi ahli waris yang sah, dalam hal ini adalah orang yang tercatat resmi secara hukum sebagai ahli waris.

Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, dalam Pasal 44A ayat (2), dinyatakan:

Dalam hal Nasabah Penyimpan telah meninggal dunia, ahli waris yang sah dari Nasabah Penyimpan yang bersangkutan berhak memperoleh keterangan mengenai simpanan Nasabah Penyimpan tersebut.

Hal yang sama juga diatur dalam Pasal 48 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syari'ah.

Kedua, kami tidak menemukan dasar hukum terkait adanya penetapan dari Pengadilan dalam hal untuk menutup rekening bank bagi orang yang sudah meninggal. Namun terkait siapa ahli waris yang berhak atau yang sah, berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia terdapat perbedaan dalam hal pengesahan ahli waris, karena hukum waris di Indonesia masih bersifat pluralistis (berlakunya bermacam-macam sistem hukum bagi kelompok-kelompok sosial yang berbeda di dalam suatu negara).