Kejagung Tetapkan Presdir PT Rimo International Tersangka Baru Kasus ASABRI

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Kamis, 26 Agu 2021 18:56 WIB
Presiden Direktur PT Rimo Internasional Lestari Teddy Tjokrosapoetra
Presiden Direktur PT Rimo International Lestari Teddy Tjokrosapoetra (Wilda/detikcom)

PT ASABRI (Persero) diketahui mendapatkan pendanaan yang berasal dari dana program THT (Tabungan Hari Tua) dan dana Program AIP (Akumulasi Iuran Pensiun) yang bersumber dari iuran peserta ASABRI setiap bulannya yang dipotong dari gaji pokok TNI, Polri, dan ASN/PNS di Kemenhan sebesar 8 persen dengan rincian dana pensiun dipotong sebesar 4,75 persen dari gaji pokok, sedangkan Tunjangan Hari Tua (THT) dipotong sebesar 3,25 persen dari gaji pokok.

Kasus ini berawal pada 28 Juni 2012, Adam Damiri selaku Dirut ASABRI dan komisaris memimpin rapat direksi membahas investasi di pasar modal dalam bentuk instrumen saham dan jenis saham, termasuk saham yang sedang bertumbuh atau dikenal dengan layer 2 atau layer 3, yaitu saham-saham yang mempunyai risiko tinggi.

Kemudian sejak 2012 PT ASABRI mulai melakukan transaksi jual-beli saham jenis tersebut, di antaranya saham LCGP di pasar reguler pada 1 Oktober 2012, MYRX di pasar reguler pada 4 Oktober 2012, dan SUGI di antaranya melalui pasar negosiasi mulai 3 Desember 2012 meskipun jumlahnya belum terlalu banyak.

"Pembelian saham-saham berisiko tersebut diketahui dan disetujui oleh Adam Rachmat Damiri dan Bachtiar Effendi di antaranya melalui laporan realisasi investasi bulanan dengan melihat profit dan loss serta data risk based capital (RBC)," katanya.

Setelah itu, barulah direksi PT ASABRI bertemu dengan Benny Tjokro dkk. Pertemuan itu dihadiri oleh Adam Damiri dan Kadiv Investasi ASABRI Ilham Wardhana Bilang Siregar, Bachtiar Effendi, Hari Setianto, dan Sonny Widjaja.

"Telah melakukan pertemuan dan kesepakatan-kesepakatan untuk mengatur penempatan dana PT ASABRI dalam investasi saham, reksa dana, MTN, dan investasi lainnya dengan beberapa pihak pemilik saham, yaitu Lukman Purnomosidi, Danny Boestami, Benny Tjokrosaputro, Edward Seky Soeryadjaya, Bety, Lim Angie Christina, Rennier Abdul Rahman Latief, Heru Hidayat, dan 15 manajer investasi," ungkap jaksa.

Dalam sidang ini, yang hadir hanya tujuh terdakwa. Satu terdakwa tidak hadir, yakni Bachtiar Effendi, karena sakit.

Atas dasar itu, para terdakwa didakwa jaksa melanggar Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.


(whn/fas)