Aktivitas Merapi Meningkat, Kegiatan Pendakian Ditutup
Senin, 03 Apr 2006 17:05 WIB
Yogyakarta - Aktivitas vulkanik Gunung Merapi terus meningkat. Saat ini gunung yang berada di perbatasan Provinsi DIY dan Jawa Tengah itu masih berstatus 'Waspada'. Pendakian Merapi dari Selo maupun wilayah lainnya untuk sementara ditutup. "Tidak hanya pendakian saja yang kami sarankan untuk dihentikan sementara. Kalaupun ada yang naik cukup sampai daerah Pasar Bubar saja," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), Ratdomo Purbo kepada detikcom di kantor Jl. Cendana, Yogyakarta, Senin (3/4/2006). Dia menyatakan pihaknya juga meminta agar penambang pasir tidak terus naik ke atas hingga ke wilayah aliran dulu sungai di Merapi. Namun dia tidak bisa melarang secara langsung terhadap kegiatan penambangan pasir Merapi terutama di wilayah barat dan utara. Hanya disarankan agar yang menambang pasir di jarak 6 kilometer dari puncak untuk lebih berhati-hati dan waspada, mengingat aktivitas Merapi meningkat sejak 15 Maret lalu. "Kami terus memberikan laporan perkembangan Merapi tiap hari kepada pemerintah kabupaten. Selanjutnya mereka yang akan menyosialisasikannya," kata Purbo.Menurut dia, sampai saat ini pengamatan baik secara visual maupun menggunakan berbagai alat yang ada di pos-pos pengamatan terus dilakukan. Namun hingga hari ini, BPPTK belum menaikkan status Merapi menjadi 'Siaga Merapi.' "Kami masih mempertimbangkannya dan terus melakukan pemantauan, mengingat telah terjadi perubahan di puncak Merapi akibat adanya dorongan magma ke atas yang sudah mencapai 500 meter dari puncak," kata dia. Sementara itu menurut petugas di Pos Pengamat Gunung Merapi di Kaliurang Kecamatan Pakem Sleman, Heru Suprawoko, sejak hari Sabtu (1/4/2006), di kawasan puncak diselimuti kabut tebal sehingga mengakibatkan puncak Merapi tidak bisa diamati secara langsung. Tinggi gas solfatar hingga 75 meter dengan warna putih tebal bertekanan lemah. Sedangkan gempa vulkanik dalam kata Heru, sempat terjadi sebanyak dua kali. Gempa multifase terjadi sebanyak 35 kali dan guguran terjadi sebanyak 6 kali. "Untuk guguran lava belum terjadi dan suara guguran juga tidak terdengar," kata dia.
(asy/)











































