Lurah Ngaku Dianiaya Oknum TNI Saat Operasi Yustisi di Siantar Minta Maaf

Datuk Haris Molana - detikNews
Selasa, 24 Agu 2021 17:16 WIB
Poster
Ilustrasi penganiayaan (Edi Wahyono/detikcom)
Pematangsiantar -

Lurah Asuhan, Kecamatan Siantar Timur, Walmaria Zalukhu, sempat viral usai membuat postingan berisi narasi dirinya dianiaya oknum TNI saat operasi yustisi terkait PPKM level 4. Lurah itu kemudian meminta maaf atas narasinya yang viral.

"Iya, permintaan (maaf) dan klarifikasi," kata Camat Siantar Timur, Syaiful, saat dimintai konfirmasi, Selasa (24/8/2021).

Syaiful mengatakan permintaan maaf disampaikan lurah tersebut karena postingannya menyebut dugaan penganiayaan terjadi saat operasi yustisi. Menurut Syaiful, peristiwa itu terjadi bukan saat operasi yustisi.

"Intinya kan postingan beliau yang di Facebook-nya kan di situ seakan-akan disebutkan kejadiannya pada saat pelaksanaan operasi yustisi. Kejadiannya kan sebenarnya setelah itu, apakah itu dampak atau nggak, itu ranahnya penyidikan," sebut Syaiful.

Dia menegaskan peristiwa dugaan penganiayaan itu tidak terjadi saat operasi yustisi. Dia menyebut POM sedang turun tangan mengusut peristiwa itu.

Permintaan maaf itu juga disampaikan karena WZ merasa unggahannya telah membuat kehebohan di masyarakat. Lurah tersebut sedang menjalani perawatan pascaperistiwa dugaan penganiayaan itu.

"Ya mungkin itu tadi karena sempat viral jadi kehebohan, dia minta maaf. Lagi perawatan di rumah," ujar Syaiful.

Sebelumnya, postingan berisi narasi seorang lurah di Kecamatan Siantar Timur, Kota Pematangsiantar, Sumut, dianiaya oknum TNI viral di media sosial. Korem 022/Pantai Timur mengatakan peristiwa dalam narasi viral itu masih diselidiki.

Narasi soal penganiayaan itu ditulis di akun Facebook Walmaria Zalukhu. Dalam postingan itu, Walmaria Zalukhu menjelaskan kronologi kejadian versinya dan menyertakan sejumlah foto kondisinya. Salah satu foto menunjukkan ada luka di bagian wajahnya.

Dia menyebut seorang oknum Babinsa Pahae Julu, Tapanuli Utara, berinisial JS, yang seharusnya bekerja di wilayah Pahae Julu, malah membuat keributan di Asuhan, Siantar Timur, Pematangsiantar. Oknum TNI itu disebut merasa keberatan atas operasi yustisi yang melibatkan personel gabungan TNI, Polri, dan stakeholder lainnya. Peristiwa itu disebut terjadi saat razia PPKM level 4 di Pematangsiantar pada Minggu (22/8), pukul 23.00 WIB.

JS disebut memiliki warung kelontong dan diingatkan oleh petugas yang melakukan operasi yustisi. Pengunggah cerita menyebut saat itulah dia mengalami penganiayaan.

"Petugas Satgas mengingatkan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dan penerapan PPKM level 4 karena JS memiliki warung kelontong di rumahnya. Merasa tidak senang dan bertindak arogan serta menganiaya saya (Lurah Asuhan) yang mengakibatkan mengucurkan darah segar dari hidung dan mulut saya. Dengan kejadian tersebut, saya merasa trauma. Saya mohon keadilan atas kejadian yang menimpa saya," tulis korban dalam akun itu.