Ada 2.500 Kasus Kekerasan Perempuan, Ketua DPD Minta Pemda Berperan Aktif

Yudistira Imandiar - detikNews
Senin, 23 Agu 2021 21:21 WIB
kekerasan seksual
Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Ketua DPD RI AA LaNyalla Mattalitti menyoroti semakin banyaknya kasus kekerasan pada perempuan. Ia meminta pemerintah daerah berperan aktif untuk mengurangi kasus tersebut.

Ia mengulas berdasarkan catatan Komnas Perempuan, pada periode Januari-Juli 2021 telah terjadi 2.500 kasus kekerasan terhadap perempuan. Angka tersebut melampaui catatan pada periode yang sama tahun 2020 sebanyak 2.400 kasus.

"Sangat miris melihat tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan. Kasus kekerasan ini dilaporkan melalui infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi. Namun di daerah yang masih minim teknologi, banyak kasus yang tidak dilaporkan. Artinya, jumlah itu sangat mungkin bertambah," jelas LaNyalla dalam keterangan tertulis, Senin (23/8/2021).

Senator asal Jawa Timur ini meminta pemerintah daerah segera mengambil tindakan untuk menekan kekerasan pada perempuan. Ia mendorong agar dibuat layanan untuk pengaduan korban kekerasan.

"Kita mengingatkan kepada pemerintah daerah agar menjadi daerah yang ramah terhadap perempuan. Tetapkan juga kebijakan mengenai layanan terpadu bagi perempuan korban kekerasan. Apalagi, berdasarkan kajian Komnas Perempuan terhadap 285 kebijakan daerah mengenai layanan terpadu bagi perempuan korban kekerasan, hanya ada 6 dari 89 kebijakan daerah yang memberikan layanan visum gratis," terang LaNyalla.

LaNyalla juga meminta pemerintah daerah menyiapkan fasilitas rumah aman bagi korban kekerasan terhadap perempuan. Ia menyebut jumlah rumah aman untuk korban kekerasan masih minim.

"Untuk rumah aman, jumlahnya masih sedikit. Jumlah kurang dari 30 persen, atau hanya 23 dari 80 kebijakan daerah yang memilikinya. Sedangkan layanan pemulihan bagi korban baru terdapat 30 persen dari total 128 kebijakan daerah. Dan 90 persen kebijakan daerah belum memiliki perspektif utuh mengenai layanan yang berkualitas dengan afirmasi bagi kelompok-kelompok rentan," ujar LaNyalla.

LaNyalla menekankan masalah kekerasan pada wanita dapat berdampak pada masa depan korban. Menurutnya, hal ini juga dapat berdampak pada nasib generasi penerus bangsa.

"Karena bagaimanapun peran perempuan di rumah dalam mengasuh anak sangat penting untuk tumbuh kembang anak. Perempuan yang mengalami tindak kekerasan akan berdampak pada aspek-aspek lainnya, tentu akan menurunkan kualitas anak-anak yang dilahirkan dan diasuhnya," ulas LaNyalla.

Lihat juga video 'Stop Victim Blaming Korban Pelecehan Seksual':

[Gambas:Video 20detik]



(mul/mpr)