Furi Harun, Orang Tua Asuh 349 Boneka Arwah

Khairunnisa Adinda Kinanti - detikNews
Minggu, 22 Agu 2021 06:13 WIB
Jakarta -

Terlahir dengan memiliki kelebihan yang turun temurun dari sang Nenek, membuat Furi Harun (40) merasa bahwa dirinya normal. Kemampuannya bisa berkomunikasi dan melihat yang tak kasat mata pun membuat Furi disebut sebagai anak indigo.

Furi mulai menyadari dirinya bisa melihat yang tak kasat mata ketika bermain dengan teman-temannya. Saat itu, Furi kecil melihat sesuatu yang tidak lazim di atas pohon cengkeh.

"Saya tanya ke teman saya, 'Kamu ngeliat itu gak?', 'Nggak' jawab teman saya. Tapi saya tidak takut. Jadi waktu itu justru saya ngerasa bahwa teman-teman saya kayaknya tidak normal deh, saya yang normal," ujarnya.

Kejadian tersebut tentu langsung membuat tanda tanya besar. Lantas, sesampainya di rumah, Furi langsung bercerita ke orang tuanya tentang apa yang ia alami hari ini.

"Karena orang tua itu pimpinan ponpes, pondok pesantren. Dan sangat religius, jadi katanya 'Banyak doa saja, makanya jangan main maghrib-maghrib. Nggak ada, hantu itu nggak ada. Berarti kamu kurang doa, kamu jangan main maghrib lagi'," cerita Furi di program Sosok.

Tipe indigo yang ada di diri Furi termasuk dalam tipe medium interdimensional. Yang artinya adalah orang yang bisa berkomunikasi dengan arwah yang sudah meninggal.

"Pada saat orang bertanya tentang sesuatu yang sudah meninggal, biasanya akan muncul gambaran. Tetapi kalau bertanya tentang orang yang masih hidup, tidak bisa." ujarnya.

Dan sekarang Furi dikenal sebagai kolektor boneka arwah atau spirit dolls. Bisa juga Furi disebut sebagai orang tua asuh dari 349 boneka yang dibelinya dari berbagai negara. Mulai dari Italia, Jerman, Amerika, Thailand, dan China. Furi masih belum menemukan pabrik Indonesia yang mengeluarkan boneka-boneka vinyl.

Boneka yang ada isinya pun hanya diisi dengan arwah anak kecil misal dari bayi yang diaborsi dan hanya ada dua boneka yang diisi dengan orang dewasa. Furi pun tidak mau mengasuh arwah yang meninggalnya disebabkan karena bunuh diri.

"Cuman memang untuk yang bunuh diri saya tidak buka komunikasi. Agak posesif. Kalau yang dibunuh ya Alhamdulillah kayak Gan En (salah satu boneka asuh milik Furi), mereka sudah pulang (ke rumah Tuhan)," cerita Furi Harun.

Furi menyebutnya boneka ini adalah rumah sementara untuk arwah yang masih belum bisa berdamai dengan kenyataannya. Namun, Furi juga selalu mengingatkan para arwah yang ada dalam boneka tersebut untuk tidak berpikir bisa hidup selamanya di dalam boneka ini.

"Saya selalu bilang, 'Ini rumah sementara. Jadi jangan pernah berekspektasi kalian akan hidup selamanya di sini. Karena usia Mami Furi juga terbatas. Jadi mudah-mudahan kalian bisa memaafkan, dan bisa pulang ke Tuhan'," ujar Furi sambil tersenyum.

Hal yang sangkut paut dengan mistis tentu masih menarik perhatian masyarakat Indonesia. Namun, tidak sedikit pula orang-orang yang tidak percaya dan memandang kelebihan Furi dengan sebelah mata.

"Tanggapan saya itu adalah hak semua orang, termasuk keluarga saya sendiri pun mereka ada yang tidak percaya. Tapi kita tetap family, kita tetap keluarga. Jadi balik lagi ke masing masing orang," tegasnya.

Ternyata, berkat kelebihan Furi Harun ia masuk ke dalam komunitas Ghost Hunter International. Namun diakui Furi bahwa ia tidak aktif mengikuti kegiatan di komunitas tersebut. Karena aksi-aksinya lumayan ekstrim. Maka, Furi harus 'memagari' diri sendiri agar tidak 'diserang'.

Furi Harun juga membuka adopsi boneka arwah. Tidak asal, tentu siapapun calon adopternya harus sesama kolektor boneka arwah dan bisa merawat boneka tersebut. Dan yang pasti tidak menyalah gunakan boneka tersebut untuk media-media negatif lainnya.

Harganya juga beragam. Dimulai dari angka Rp 500 ribu sampai ratusan juta rupiah. Tetapi, pandemi nyatanya berdampak pada siapapun, termasuk bisnis adopsi boneka Furi Harun. Yang tadinya bisa mencapai Rp 100 juta, kini hanya laku di kisaran Rp 25 juta sampai Rp 30 juta.

Harapan Furi agar bisa mengantarkan anak-anak asuh ini kembali ke Tuhan. Agar tidak dijadikan sebagai media-media untuk mencelakai orang.

(gah/gah)