Heboh Keluarga di Gianyar Kuburkan Jenazah COVID-19 Tanpa Bantuan Petugas

Sui Suadnyana - detikNews
Sabtu, 21 Agu 2021 21:33 WIB
Poster
Ilustrasi pemakaman pasien COVID-19 (Edi Wahyono/detikcom)
Gianyar -

Satu keluarga di Kabupaten Gianyar, Bali, menguburkan jenazah pasien COVID-19 tanpa bantuan dari petugas penguburan. Jenazah dikuburkan pihak keluarga setelah meninggal di Rumah Sakit Ganesha, Gianyar.

Korban ialah warga Desa Celuk, Kecamatan Sukawati. Pemakaman dilakukan pada Kamis (19/8).

Petugas tidak bisa membantu pemakaman jenazah tersebut lantaran jadwal penuh. Pada hari itu disebut ada 14 jenazah yang harus dikuburkan.

"Tanggal 19 itu kita sudah terjadwal mulai tanggal 17 dan 18. Kita sudah jadwalkan final (tanggal) 18 malam. Kita ada 14 jenazah yang harus dieksekusi pada tanggal 19," kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gianyar Ida Bagus Suamba saat dihubungi detikcom, Sabtu (21/8/2021).

Suamba mengatakan pihaknya telah menyusun jadwal penguburan 14 jenazah tersebut dari pukul 05.00 Wita. Petugas penguburan juga sudah bersiap dari pukul 04.00 Wita.

"Sudah terjadwal itu jam sekian, jam sekian, yang nomor terakhir itu ada di Penestanan (Ubud) jam 21.00 (Wita). Jadi kami sudah infokan kepada seluruh rumah sakit agar tidak menyanggupi atau mengiyakan tatkala ada penguburan lagi tanggal 19," terang Suamba.

Namun, pada Kamis (19/8) siang, ada salah satu warga Desa Celuk yang meninggal dunia akibat positif COVID-19 di RS Ganesha. Pihaknya pun telah berkoordinasi dengan rumah sakit agar tidak dikuburkan hari itu dan membiarkan jenazah tersebut berada di rumah sakit 1-2 hari.

"Nah kemudian ternyata yang di (Desa) Celuk ini, mungkin ada miskomunikasi (atau) entah apa dengan Rumah Sakit Ganesha, akhirnya yang di (Desa) Celuk ini menggali dia lubang kubur untuk tanggal 19. Nah, setelah menggali kubur, baru kami diinfo oleh (Desa) Celuk bahwa akan dikubur tanggal 19 jam 17.00 (Wita)," tutur Suamba.

Karena pihaknya sudah menyusun jadwal, akhirnya petugas tidak bisa membantu menguburkan jenazah tersebut. Akhirnya diberikan solusi bahwa jenazah hanya mendapatkan pelayanan ambulans dari RS Ganesha tanpa didampingi petugas pemakaman.

"Akhirnya kami memberikan solusi minta tolong kepada keluarga untuk mengubur, tetapi kami memberikan fasilitas alat pelindung diri agar tetap prokes kesehatan berjalan. Karena (jenazah) di (Desa) Celuk ini tidak bisa ditunda penguburannya dengan alasan sudah menggali kubur, sudah membuat banten (sesajen)," jelasnya.

"Penguburannya sesuai jadwallah mereka, cuma kami tidak bisa memfasilitasi (penguburan). Cuma kami bisa membantu alat pelindung diri, masker, selop tangan dan sebagainya untuk kelancaran prokes di setra (kuburan) Desa Celuk waktu itu," imbuh Suamba.

(jbr/jbr)