Menguak Sejarah Kain Batik di Rumah Digital Indonesia

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Jumat, 20 Agu 2021 15:29 WIB
Batik (Foto: Tangkapan layar video di Rumah Digital Indonesia)
Foto: Batik (Foto: Tangkapan layar video di Rumah Digital Indonesia)
Jakarta -

Batik telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Setiap harinya kita melihat batik dikenakan masyarakat Indonesia, baik pria maupun wanita, bahkan tua dan muda.

Pesona batik sudah mendunia. Banyak orang dari berbagai penjuru dunia memakainya. Batik bahkan telah ditetapkan sebagai world heritage pada 2019.

Penetapan batik sebagai warisan dunia itu membuktikan batik bukan hanya selembar kain yang diberi motif. Batik memiliki sejarah panjang di Nusantara. Tak hanya itu, batik juga menyimpan filosofi kehidupan tentang ketekunan, kegigihan, dan kebanggaan.

Kata batik berasal dari dua kata, yakni amba dan titik. Sejarah membatik mulanya merupakan tradisi di keraton. Karena itu, motif batik di keraton penuh dengan filosofi kehidupan.

Dari keraton, busana adiluhung itu melebar ke lingkungan sekitar atau keluarga ningrat. Adalah abdi dalam keraton yang kemudian membawa tradisi batik keluar dari lingkungan keraton.

"Batik itu sudah ada sebelum Kerajaan Surakarta. Di Majapahit pun sudah ada, turun-temurun, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, dan sampai Surakarta," kata budayawan keraton Kanjeng Pangeran Winarnokusumo dalam video yang tersaji di Rumah Digital Indonesia.

Batik memiliki beragam corak. Salah satunya corak Parang Kusumo, yang dibuat Panembahan Senopati atau Sutawijaya. Saat itu tidak sembarang orang bisa menggunakan kain bercorak Parang Kusumo. Sebab, corak itu hanya dipakai khusus keluarga raja.

Kemudian pada masa Pakubuwono III, ada corak batik bernama Truntum. Corak yang menggambarkan 'walau dalam keadaan gelap, sekerdip bintang bisa menerangi' itu dibuat oleh istri Pakubuwono III.

Di luar keraton, membatik juga telah turun-temurun diajarkan. Salah satunya di Laweyan, Solo, yang kemudian menelurkan motif-motif batik yang berbeda dari keraton, misalnya motif Sudagaran.

Batik dari Laweyan disebut sudah ada sejak zaman Ki Ageng Henis, keturunan Raja Brawijaya V, yang menetap di daerah yang kala itu dikelilingi pohon kapas.

Tak hanya di Solo dan Yogyakarta, batik juga lekat dengan Kota Pekalongan, yang mendapat julukan Kota Batik. Batik di Pekalongan memiliki corak tersendiri, yang dinilai lebih garang dari batik-batik keraton.

Penasaran dengan sejarah panjang batik di Nusantara? Yuk tonton videonya di Rumah Digital Indonesia.

Kunjungi segera www.rumahdigitalindonesia.id. Kemudian, klik peta dan Ruang Komunitas. Video 'Kain Batik' bisa kamu temukan di Cerita Indonesia.

Oh iya, selain 'Kain Batik', masih banyak konten menarik di Rumah Digital Indonesia yang akan hadir selama bulan kemerdekaan untuk menemanimu merayakan kemerdekaan di rumah saja lho. Karena itu, segera kunjungi Rumah Digital Indonesia, yuk!

(mae/imk)