Kisah Pengusaha Pupuk Banjir Rezeki Sejak Tinggalkan Tambang Ilegal

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Kamis, 19 Agu 2021 22:25 WIB
Pupuk Bokasi
Foto: dok. MIND ID
Jakarta -

Pintu taubat mampu membuka rezeki yang lebih luas. Begitu kira-kira hikmah yang bisa dipetik dari kisah hidup Juardi, mantan penambang ilegal asal Tanjung Enim yang kini sukses jadi pengusaha pupuk bokashi dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah.

Titik balik hidup Juardi bermula pada 2013 lalu, ketika ia memutuskan berhenti menjadi penambang ilegal dan merintis usaha pupuk bokashi. Memang kelihatannya jauh sekali, dari yang mengolah batu bara jadi harus berjibaku dengan kotoran ternak.

Pupuk bokashi adalah pupuk organik yang dihasilkan dari fermentasi bahan-bahan organik semisal kompos dan pupuk kandang dengan memanfaatkan bantuan mikroorganisme pengurai seperti mikroba atau jamur fermentasi.

Juardi mengaku banyak pertimbangan saat memutuskan untuk berhenti menambang ilegal, mulai dari risiko keselamatan serta faktor lainnya. Namun, ia menyadari selama ada kesempatan untuk mendapat rezeki lebih baik dan lebih aman dari tambang ilegal itu harus ia dilakukan.

"Alhamdulillah, sekarang perekonomian saya jauh lebih baik dan berkah. Saya juga bisa membantu lingkungan sekitar saya dengan usaha ini," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (19/8/2021).

Juardi yang merupakan warga Talang Jawa Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, memulai usahanya dengan memanfaatkan bantuan modal kemitraan Corporate Social Responsibility (CSR) PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Tak hanya mendapat suntikan modal, ia pun mendapatkan pelatihan pembuatan pupuk bokashi dari tim CSR PTBA yang ia ikuti dengan tekun. Dari pelatihan tersebut, dia bisa mengetahui prosedur dan tata cara yang benar pembuatan bokashi yang layak jual dan bernilai jual tinggi, sehingga mendapatkan hasil yang maksimal.

Bahkan, lanjutnya, untuk pemasaran pupuk bokashi pun dibantu CSR PTBA yang membantu pemasaran sebanyak 1.000 ton pupuk bokashi yang dipasarkan ke beberapa perusahaan di sekitar Kabupaten Muara Enim.

Jerih payah Juardi terbayar, bertahun-tahun menekuni dan berjibaku dengan kotoran ternak, kini ia menjadi pengusaha yang memiliki 12 pegawai. Artinya, pupuk bokashi tak hanya mendatangkan rezeki bagi dirinya sendiri namun juga bisa membuka kesempatan lowongan kerja bagi warga sekitar.

Dia menuturkan pupuk bokashi sendiri terdiri dari 60 % pupuk kandang, 25 % rumput, dan sekam bakar 15 % serta menggunakan E4 sebagai bakteri pengurainya.

Setelah itu difermentasikan dengan jangka waktu 7-14 hari di ruangan kedap udara. Pada saat fermentasi, dilakukan pengadukan berkala setiap 3 harinya agar komposisi pupuk menjadi rata dan halus.

"Saya ucapkan terima kasih kepada PTBA yang peduli dan cepat tanggap terhadap masyarakat di ring 1. Semoga kedepan khususnya kami sebagai pengusaha pupuk bokashi terus dibimbing agar dapat mengembangkan dan memajukan usaha," ungkap Juardi.

Sementara itu, Senior Manager CSR PTBA melalui AM Bina Mitra CSR Mustafa Kamal juga menginginkan kemandirian masyarakat terkhusus yang menetap di area sekitar perusahaan. Salah satu program yang dilakukan PTBA yaitu meningkatkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sesuai dengan regulasi dari Kementerian BUMN.

"Dengan peningkatan pelaku UMKM juga memperluas lapangan pekerjaan di Kabupaten Muara Enim khususnya. Terima kasih kepada Mitra CSR PTBA, yang sudah optimalkan bantuan yang ada," ucap Mustafa.

Sebagai informasi, PTBA merupakan anggota dari Holding BUMN Pertambangan MIND ID, yang memiliki tujuan pertambangan untuk peradaban, kesejahteraan masyarakat, dan masa depan yang lebih cerah. Tujuan mulia ini diwujudkan dalam kegiatan sosial perusahaan, salah satunya melalui pembinaan warga sekitar untuk menambah dan meningkatkan keahlian mereka sehingga bisa memiliki mata pencaharian yang lebih baik.

(prf/ega)