ADVERTISEMENT

Persi hingga Gakeslab Indonesia Minta Tenggat Penurunan Harga Tes PCR

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Kamis, 19 Agu 2021 18:57 WIB
Usai libur panjang, sebanyak ratusan pegawai Kemenag diswab PCR hari ini. Berikut foto-fotonya.
Ilustrasi tes swab (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Sejumlah organisasi laboratorium dan persatuan rumah sakit meminta pemerintah memberikan tenggat penurunan harga tes PCR. Mereka mengatakan pihaknya butuh waktu untuk menghabiskan alat yang telah dibeli sebelumnya.

Organisasi itu adalah Persatuan Dokter Spesialis Patologi Klinik (PDS Patklin), Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi), Ikatan Laboratorium Kesehatan Indonesia (ILKI), dan Perkumpulan Organisasi Perusahaan Alat-alat Kesehatan dan Laboratorium di Indonesia (Gakeslab Indonesia).

"Mohon untuk diberi tenggat menghabiskan barang-barang yang sudah dibeli. Ini pesan dari direktur rumah sakit ini," kata Ketua Persatuan Dokter Spesialis Patologi Klinik, Aryati, dalam diskusi virtual dalam siaran YouTube Cokro TV, Kamis (19/8/2021).

Aryati menjelaskan penentuan harga tes PCR harus dipertimbangkan dari berbagai aspek, seperti tahapan yang digunakan dalam tes PCR.

"Jadi ada penjelasan mengenai penentuan biaya PCR. Tahapan ada tiga: pra-analitik, analitik, pasca-analitik. Ini semua ada biaya semua. Jadi membangun lab harganya berapa, APD, alat swab-nya segala macam, kemudian analitik harus diperhatikan ada perbedaan harga apakah itu open system atau close system," kata dia.

"Kemudian pasca-analitik adalah mulai hasil dikeluarkan komponen keterkaitan itu bahan habis pakai termasuk untuk sekarang pelaporan 24 jam sehingga kita merekrut banyak orang, sehingga melaporkan tepat waktu sesuai dengan keinginan pemerintah," lanjutnya.

Lebih lanjut Aryati mengatakan pengelolaan limbah dari tes PCR juga perlu diperhitungkan. Selain itu, dia menjelaskan biaya bagi tes PCR ulang apabila hasil membingungkan.

"Kemudian sampai ke biaya limbah, limbah kan harus diperhitungkan itu. Pengulangan. Karena sering sekali di kita tahu bahwa hasil PCR itu apabila hasil cuma satu itu kita mengulang. Kalau terjadi pengulangan, siapa yang menanggung. Sehingga kita agar khawatir dalam arti kualitas dan keamanan kalau nanti ada yang dipangkas," tutur Aryati.

Tak Diajak Diskusi Penurunan Harga

Ketua Umum Persi Kuntjoro Adi Purjanto mengatakan pihaknya tidak diajak berdiskusi dalam penurunan harga tes PCR. Kuntjoro menekankan penentuan harga harus didiskusikan dengan perbagai pihak.

"Yang jelas bahwa untuk ini (harga tes PCR) kita nggak diajak. Mungkin rekomendasinya yang populer kan pentahelix harus diajak. Kalau untuk ini bukan pentahelix, akan tapi multihelix. Kalau perlu, melakukan survei pasar, kek, 'sampeyan ada masalah apa', gitu loh, itu perlu didengarkan. Jadi, kalau sakit, sakit bareng, kalau senang, senang bareng," kata Kuntjoro.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ketua ILKI Purwanto bahwa pihaknya tak diajak saat penentuan tarif tertinggi tes PCR oleh Kementerian Kesehatan.

"Diajak tidaknya memang ILKI dalam hal harga ini memang tidak disinggung sama sekali. Beberapa kali memang kami bertemu untuk lebih membantu ke Direktorat Mutu, intens kalau itu, terutama mutu pemeriksaan PCR ini," kata Purwanto.

Diskusi virtual penurunan harga tes PCR oleh persatuan laboratorium dan rumah sakitDiskusi virtual soal penurunan harga tes PCR oleh persatuan laboratorium dan rumah sakit (Foto: YouTube CokroTV)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT