ADVERTISEMENT

PPKM Level 4 Lanjut, Tukang Servis HP PGC Bertahan di Pinggir Jalan

Nahda Rizki Utami - detikNews
Rabu, 18 Agu 2021 16:48 WIB
Sejumlah teknisi perbaikan HP di Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jaktim, menawarkan jasanya di pinggir jalan. Hal ini karena mereka tidak bisa bayar sewa kios.
Tukang servis HP yang semula membuka toko di dalam PGCm turun ke pinggir jalan di saat pandemi. (Siti Fatimah/detikcom)
Jakarta -

Sejumlah tukang servis handphone (HP) di depan Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta Timur, masih bertahan di pinggir jalan demi menggaet pelanggan. Salah satunya Fajar (30), yang mengaku tak sanggup bayar uang sewa toko di dalam gedung PGC, hingga akhirnya terpaksa membuka lapak di pinggir jalan.

Fajar mengatakan dia turun ke pinggir jalan sejak awal pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan oleh pemerintah. Fajar menjelaskan saat itu dia harus tetap membayar uang sewa toko sebesar Rp 1,5 juta per bulan, sehingga memilih menjajakan jasa servis HP di pinggir jalan.

"1,5 juta (rupiah) per bulan. Saya waktu itu udah bayar sebulan. Eh baru dua hari, lockdown lagi, tapi uangnya nggak balik," cerita Fajar kepada detikcom, Rabu (18/8/2021).

Selama buka lapak servis HP di pinggir jalan, Fajar mangkal dari pukul 10.00 WIB hingga sore hari. Fajar juga mengatakan pendapatannya kini tak tentu, berkisar Rp 100-300 ribu setiap hari.

"Ya nggak nentu (pendapatan). Nggak tiap hari rame. Kadang Rp 300 ribu, kadang Rp 100 ribu," tutur Fajar.

Meski demikian, Fajar mengaku mampu mencukupi kebutuhan sehari-harinya di saat pandemi. Fajar belum memastikan akan kembali membuka toko di dalam gedung PGC, meski pemerintah telah memperbolehkan mal atau pusat perbelanjaan buka.

Saat ini dia masih memilih membuka lapak di pinggir jalan lantaran menurutnya tak semua pelanggan yang hendak servis bisa masuk mal. Oleh sebab itu, Fajar menyasar pelanggan yang tak bisa masuk mal lantaran terkendala sertifikat vaksin.

"(Penghasilan) ya cukup-cukupin. (Rencana kembali buka toko di dalam gedung) kalau di dalam mal kan banyak persyaratannya juga, harus punya aplikasi dan harus udah vaksin baru boleh masuk mal, otomatis kan kalau yang nggak punya aplikasi dan belum vaksin, bisa servis di luar," ujarnya.

Terkait vaksin, Fajar mengaku baru menerima dosis pertama. Dia berharap aturan sertifikat vaksin digital sebagai syarat masuk mal tak diberlakukan.

"Sudah vaksin. Baru sekali tapi. Ya biar normal lagi aja. Nggak ribet kaya begini. Kalau nggak punya handphone dan nggak mau vaksin nggak bisa masuk gedung mal," ucap Fajar.

Terakhir, Fajar mengaku sedari awal pandemi hingga saat ini belum pernah sekalipun mendapat bantuan sosial (bansos) dari pemerintah. Padahal dia merasa sebagai salah sau warga yang ekonominya sangat terkena dampak pandemi.

"Untuk bantuan nggak pernah. Apapun jenis bantuannya nggak pernah dapet," pungkas dia.

(aud/aud)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT