BIN: Terduga Teroris Kalbar Kumpulkan Dana dari Kotak Amal

Antara - detikNews
Rabu, 18 Agu 2021 12:04 WIB
Densus 88 Antiteror Polri menggeledah sebuah rumah di Desa Manunggal, Kabupaten Deli Serdang, Sumut. Di lokasi, Densus 88 menemukan ratusan kotak infak yang diduga dipakai terduga teroris. (Ahmad Arfah/detikcom)
Ilustrasi / Densus 88 menggeledah sebuah rumah di Deli Serdang, Sumut dan menemukan ratusan kotak amal yang diduga dipakai terduga teroris. (Ahmad Arfah/detikcom)
Pontianak -

Densus 88 Antiteror Polri menangkap seorang terduga teroris berinisial MD di Kalimantan Barat (Kalbar). Terduga teroris tersebut diduga mengumpulkan dana untuk kegiatan mereka dari kotak amal.

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Daerah Kalbar, Brigjen Rudi Tranggono, mengatakan kotak amal disebar terduga teroris dari berbagai lokasi.

"Mereka yang terlibat jaringan teroris sengaja dipengaruhi dan dicuci otaknya dengan paham-paham radikal sehingga nanti dapat melakukan aksi teror yang dapat meresahkan masyarakat," kata Brigjen Rudi seperti dilansir Antara, Rabu (18/8/2021).

Dia mengatakan terduga teroris yang ditangkap kemarin bertugas mencari dana untuk kegiatan-kegiatan mereka melalui kotak-kotak amal. Mereka menyebar kotak amal di restoran, masjid-masjid yang tanpa diketahui jika uang itu untuk mendukung kegiatan mereka.

Padahal, kata Kabinda Kalbar, niat masyarakat yang menyumbang untuk bersedekah, namun oleh kelompok-kelompok itu malah menggunakan uang sedekah itu untuk kegiatan terorisme.

"Ini sangat bahaya, sehingga semua pihak harus tetap waspada, namun harus optimis karena nawaitu kita untuk bersedekah. Namun harus waspadalah jangan sampai uang sedekah dari masyarakat malah digunakan untuk organisasi teroris," ujarnya.

Dia mengimbau masyarakat yang ingin bersedekah untuk mengecek terlebih dahulu apakah yayasan yatim piatu atau pondok pesantren yang ada di kotak amal sudah terdaftar di instansi pemerintah.

Paham Radikal Meresahkan

Brigjen Rudi mengungkap keresahannya pada penyebaran paham-paham radikal tersebut. Dia mengungkapkan hal itu berdasarkan hasil tes wawasan kebangsaan (TWK) untuk penerimaan tenaga kesehatan.

"Kemarin ada penerimaan untuk tenaga kesehatan, dari 40 orang yang mendaftar setelah diseleksi tinggal sembilan orang, dari sebanyak itu yang tidak paham Pancasila ada tiga orang, dan yang berpaham radikalisme dari hasil TWK dan mental ideologi ada enam orang. Artinya anak muda yang tidak paham Pancasila dan berpaham radikalisme sekarang sudah banyak," jelasnya.

Terkait dengan adanya teroris di Kalbar, dia mengibaratkan, jika Pontianak dialiri oleh sungai yang besar dan tidak berombak namun akan menghanyutkan.

"Begitu juga dengan adanya terorisme yang ada di Kalbar ini, padahal kita selama ini sama sekali tidak menganggap ada teroris di sini, namun ternyata ada yang ditangkap di Kalbar," ungkapnya.

Lihat juga video 'Densus 88 Tangkap Terduga Teroris di Pekalongan':

[Gambas:Video 20detik]



(jbr/jbr)