Makam Syekh Abu Hamid di Kalteng Terancam Abrasi, Pemda Tunggu Keluarga

Antara - detikNews
Rabu, 18 Agu 2021 10:19 WIB
Makam Syekh Abu Hamid di Pantai Ujung Pandaran, Kalteng, terancam abrasi. Pemda menunggu keputusan keluarga untuk relokasi makam. (Foto Antara)
Makam Syekh Abu Hamid di Pantai Ujung Pandaran, Kalteng, terancam abrasi. Pemda menunggu keputusan keluarga untuk relokasi makam. (Foto Antara)
Kotawaringin Tengah -

Makam ulama di Pantai Ujung Pandaran, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah (Kalteng), terancam abrasi yang terus menggerus pantai. Pemerintah daerah (pemda) setempat siap membantu pemindahan makam tersebut.

Bupati Kotawaringin Timur, Halikinnor, mengatakan pihaknya masih menunggu keputusan keluarga atau zuriah ulama tersebut.

"Semua itu keputusan ada yayasan zuriat. Mereka yang memutuskan dipindah atau tidak. Ini makam ulama. Kita tidak tahu di makam itu sekarang ada jasadnya atau tidak. Kalau mereka meminta merelokasi maka kita akan bantu," kata Halikinnor seperti dilansir Antara, Rabu (18/8/2021).

Makam atau kubah ulama bernama Syekh Abu Hamid bin Syekh Haji Muhammad As'ad Al Banjari itu berada di arah timur Pantai Ujung Pandaran.

Syekh Abu Hamid adalah buyut dari ulama terkenal di Kalimantan Selatan, yakni Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau lebih dikenal dengan sebutan 'Datu Kalampayan', dikenal luas dengan kitab karangannya berjudul 'Sabilal Muhtadin', yang hingga kini banyak digunakan di sejumlah negara.

Pantai Ujung Pandaran yang berjarak sekitar 85 kilometer (km) dari pusat kota Sampit merupakan objek wisata alam andalan Kotawaringin Timur karena pemandangannya yang indah.

Kubah itu juga menjadi objek wisata religi dan banyak didatangi peziarah dari luar daerah. Namun kini keberadaannya terancam akibat abrasi yang terus menggerus pantai tersebut.

Makam Terancam Abrasi

Jalan menuju kubah sudah terputus oleh abrasi sehingga peziarah harus menggunakan perahu motor. Bahkan musala yang berjarak beberapa meter dari kubah tersebut, kini sudah ambruk akibat fondasinya ambles digerus abrasi yang dipicu kuatnya gelombang dari Laut Jawa menghantam pantai tersebut.

Pada Sabtu (10/7) lalu, puluhan pegawai dikerahkan bergotong royong melakukan penanganan darurat dengan membuat tanggul dari ratusan karung berisi pasir. Bupati Halikinnor ikut turun membuat tanggul darurat tersebut.

Sayangnya upaya itu tidak mampu menahan laju abrasi. Kini setelah sebulan lebih berlalu, abrasi mulai menggerus pondasi bangunan kubah tersebut. Sebagian lantai bahkan terlihat ambles sehingga lantai menjadi berlubang.

Video kerusakan kubah tersebut pun beredar di media sosial sehingga menimbulkan keprihatinan masyarakat. Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan kondisi kubah tersebut akan rusak parah.

Sementara itu, Minggu (17/7) lalu, rombongan zuriah Datuk Kalampayan Ketua Zuriatul Arsyadiyah Martapura, Hamdani Hamzah, sudah bertemu dengan Bupati Halikinnor dan penjabat Sekretaris Daerah yang juga Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Fajrurrahman di Sampit membahas masalah tersebut.

Halikinnor menegaskan pihaknya sudah menyampaikan kondisi terakhir kerusakan kubah kepada pihak yayasan zuriah Datu Kalampayan. Dia juga berharap segera ada keputusan dari pihak keluarga sehingga bisa dilakukan penanganan secepatnya.

"Pemerintah daerah prinsipnya mendukung apa keputusan pihak zuriat atau keluarga karena bukan kita pemerintah daerah yang memutuskan. Pemerintah daerah hanya membantu dan memfasilitasi dengan membangun maupun merelokasi," ungkap Halikinnor.

(jbr/idh)