e-Life

Hati-hati Identikkan Kelamin Anak dengan Benda Tertentu

dtv - detikNews
Selasa, 17 Agu 2021 14:06 WIB
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, media sosial dihebohkan dengan kasus akun Twitter yang bermuatan konten foto perempuan-perempuan yang matanya diperban.

Diduga ini adalah akun fetish atau objek erotis yang berasal dari hal-hal yang secara umum tidak dianggap seksual. Akun ini mengoleksi foto perempuan-perempuan yang matanya diperban tanpa seizin mereka.

Dosen Psikologi Universitas Indonesia, Dian Wisnuwardhani, M.Psi, Psikolog memaparkan mengenai apa itu fetish.

"fetish itu sebetulnya adalah objek erotisnya, gitu ya, kalau pelakunya disebut fetishis. Kalau fetishisme itu gangguan penyimpangan seksual yang ditandai dengan fantasi. Fantasi, dorongan seksual yang intens dan terus menerus pada diri seseorang untuk ingin melakukan hubungan seksual kalau dia melihat benda atau bagian tubuh gitu yang non genitalia, secara simbolis, pada tubuh manusia itu malah membuat dia jadi semakin terangsang," jelas Dian pada acara e-Life detikcom.

Menurut penjelasan Dian, umumnya seseorang akan terangsang secara seksual saat melihat anggota tubuh yang bersifat seksual. Misalnya pada alat kelamin, payudara, pinggul, dan lain sebagainya.

Namun, pada seseorang yang memiliki fetishisme, ia justru tertarik pada hal-hal yang non seksual dari seseorang.

"Misalnya menggunakan perban, terus misalnya dia tertarik sama seseorang yang menggunakan hak tinggi gitu ya misalnya, atau tertarik dengan laki-laki yang pakai sepatu boots, atau topi koboi gitu ya," kata Dian.

fetishisme ini sendiri juga memiliki tingkatan. Selain itu, tidak semua ketertarikan atau fantasi seksual serupa dapat dikatakan sebagai gangguan.

"Menurut buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder ya, edisi ke-5, ada kriteria tertentu seseorang dikatakan mengalami gangguan fetish. Setidaknya dalam 6 bulan dia mengalami dorongan fantasi seksual atau perilakunya berulang dan sangat intens, melibatkan benda mati atau bagian tubuh non genital. Minimal 6 bulan. Kalau masih baru 1 bulan, berarti dia masih punya gejala gitu," papar Dian.

Bagi yang belum familiar dengan kondisi fetishisme, pasti bertanya-tanya tentang apa yang menyebabkan seseorang menumbuhkan ketertarikan seksual seperti ini.

Dian mengatakan bahwa hal ini bisa jadi erat dengan pengalaman yang dialami seseorang saat masih kecil.

"Ini terjadi karena ada pengalaman-pengalaman di masa kecil gitu yang mungkin terpapar dengan media-media yang dia tonton, bahwa misalnya laki-laki yang oke itu ya yang pakai baju koboi, yang pakai topi gitu ya, yang naik kuda itu kelihatan ganteng banget. Dan itu juga dipaparkan oleh orang-orang sekitarnya kalau laki yang ganteng ya yang seperti itu, yang tampak bahwa dia bersama dengan binatang tertentu, jadi akhirnya terokupasi kan, dia terpikir terus dengan hal-hal seperti itu, jadi bukan kepada ketubuhan dari pasangannya, tapi justru kepada objek," jelas Dian.

Bisa saja seseorang memiliki fetish pada pasangannya sendiri. Pada kadar tertentu, seharusnya hal ini bisa diterima dan tidak membahayakan, namun perlu persetujuan dari kedua belah pihak.

"Orang punya fetish dengan pasangannya sendiri, itu bisa saja terjadi. Asal ada kesepakatan, ada consent-nya, tidak menyakiti satu sama lain. Tidak ada bentuk seperti pemaksaaan dari salah satu dari mereka, tapi justru membuat hubungan itu jadi lebih nuansa romantisme seksualnya jadi lebih hangat gitu ya, lebih hot, gitu itu nggak papa," jelas Dian.


Oleh karena itu, Dian sangat menyoroti pentingnya pendidikan seksual pada anak.

"Pendidikan seksual ini sangat penting. Orang dikatakan bisa melakukan hubungan seksual di usia berapa, lalu seperti apa bentuk hubungan seksual yang wajar, consent-nya juga perlu disepakati bersama pasangan, di mana melakukan, bagaimana cara meminta untuk melakukan hubungan seksual itu, gitu ya. Apakah menggunakan kondom atau tidak. Sudah menikah atau belum, itu masalah moral dan sebagainya," kata Dian.

Salah satu hal terpenting adalah dengan tidak menggunakan istilah yang rancu untuk menyebut alat kelamin anak.

"Sebut namanya, bahwa ini vagina, ini penis. Jangan dibilang ini tongkat, ini bolongan. Kita kasih tahu namanya supaya dia bisa membedakan. Nggak usah pakai term yang membuat anak jadi berpikir, kemudian dia menyamaratakan dengan semua benda-benda yang lainnya. Berarti dia kalau mendengar kata tongkat, itu bisa meningkatkan hasrat seksualnya. Itu berbahaya, secara tidak langsung sebetulnya sudah mengajarkan kepada anak-anak bahwa kata-kata justru bisa mengarah pada fetish tadi," jelas Dian.

Pada akhirnya, variasi dari kebutuhan seksual seseorang memang bisa jadi cukup kompleks. Namun, hal yang perlu digarisbawahi adalah adanya persetujuan dan kenyamanan dari pihak-pihak yang terlibat dalam hubungan seksual tersebut.

"Persetujuan itu betul, tapi kemudian juga apakah nyaman melakukannya gitu. Karena kalau setuju tapi nggak nyaman, berarti harus memperbaharui persetujuannya tadi. Karena dalam sebuah relationship itu jangan jadi relationship yang toxic, tapi relationship yang sejahtera. Bahagia itu beda dengan sejahtera. Sejahtera ketika sama-sama tahu bahwa bisa memahami apa kebutuhan pasangan, apa kebutuhan dirinya, dan sama-sama nyaman melakukannya gitu," tutup Dian.

Tonton video lengkap e-Life dengan tema fetish di bawah ini:

[Gambas:Video 20detik]



(gah/gah)