Teks Proklamasi RI: Perubahan dan Sejarah di Baliknya

Tim detikcom - detikNews
Senin, 16 Agu 2021 10:58 WIB
Petugas mengambil dokumen naskah kosep teks proklamasi di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta, Minggu (16/8/2020). Dalam rangka memperingati HUT ke-75 Kemerdekaan RI, naskah konsep teks proklamasi tulisan Bung Karno yang disimpan di ANRI akan turut dihadirkan pada upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI di Istana Merdeka pada 17 Agustus 2020. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/foc.
Teks Proklamasi RI: Perubahan dan Sejarah di Baliknya --potret naskah teks proklamasi tulisan tangan Soekarno (Foto: ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)
Jakarta -

Teks proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan Soekarno pada 17 Agustus 1945 silam. Dengan dibacakannya teks itu, Indonesia dinyatakan merdeka dari penjajahan.

Adapun teks proklamasi merupakan buah pikir Presiden Soekarno dibantu Moh. Hatta dan Ahmad Soebardjo. Hingga diketik rapi oleh Sayuti Melik dan ditandatangani langsung oleh Soekarno.

Teks Proklamasi RI Lengkap

Melansir dari laman resmi Kemdikbud, berikut isi teks proklamasi yang telah diketik oleh Sayuti Melik:

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05

Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno/Hatta

Sejarah di Balik Pembuatan Teks Proklamasi Kemerdekaan

Awalnya, teks proklamasi dirumuskan di ruang makan rumah Laksamana Maeda, Jalan Meiji Dori (sekarang dikenal dengan nama Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta Pusat) pada 17 Agustus 1945 dini hari. Naskah ditulis tangan oleh Soekarno dibantu Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo. Sementara perumusan tersebut disaksikan langsung oleh Miyoshi, Soekarni, B.M. Diah, dan Soediro.

Paragraf pertama yaitu 'Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia' adalah saran dari Ahmad Soebarjo yang berasal dari rumusan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Di paragraf kedua yaitu 'Hal-2 jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja' merupakan usulan Mohammad Hatta.

Setelah rampung dirumuskan, teks proklamasi dimintakan persetujuan kepada sidang yang seluruhnya berjumlah lebih kurang 40 orang. Kemudian Sajuti Melik mengetik naskah asli menggunakan mesin tik.

Teks proklamasi kemerdekaan ditandatangani oleh Soekarno dan Moh-Hatta sebagai wakil bangsa Indonesia, atas usulan Soekarni.

Pada 17 Agustus 1945 pukul 10.00 teks proklamasi dibacakan Soekarno didampingi Mohammad Hatta di serambi depan rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Djakarta (sekarang Jalan Proklamasi Nomor 5, Jakarta Pusat). Setelah teks proklamasi dibacakan, untuk pertama kalinya bendera merah-putih dikibarkan dan disaksikan oleh masyarakat di Jakarta.

Perubahan dalam Teks Proklamasi Kemerdekaan

Naskah asli Teks Proklamasi akan dihadirkan pada Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI. Upacara itu akan digelar di Istana Merdeka esok hari.Naskah asli Teks Proklamasi. Foto: ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA

Dalam proses pengetikan teks proklamasi oleh Sajuti Melik, ada sejumlah perubahan dari naskah asli yang ditulis langsung Soekarno, antara lain:

a. Kata "hal2" pada paragraf kedua baris pertama diubah menjadi "hal-hal";
b. Kata "saksama" pada paragraf kedua baris kedua diubah menjadi "tempo";
c. Penulisan tanggal dan bulan "Djakarta 17-08-05" menjadi "Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05"; dan
d. Kalimat "wakil2 bangsa Indonesia" menjadi "Atas nama bangsa Indonesia".

Diketahui teks tulisan tangan Soekarno disebut sebagai teks proklamasi klad. Sedangkan teks yang diketik Sayuti Melik dikenal sebagai teks proklamasi otentik.

Setelah berakhirnya rapat perumusan teks proklamasi, naskah klad sempat dibuang karena dianggap tidak diperlukan lagi. Namun Burhanuddin Mohammad mengambilnya dan menyimpannya sebagai dokumen pribadi.

Pada tahun 1995 Burhanuddin Mohammad Diah menyerahkan naskah tersebut kepada Presiden Soeharto, dan pada tahun yang sama, langsung disimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia.

(izt/dhn)