7 Lumba-lumba Terdampar di Pelabuhan Karangasem Bali, 1 Tak Terselamatkan

Sui Suadnyanya - detikNews
Senin, 16 Agu 2021 10:05 WIB
Lumba-lumba mati usai terdampar di Pelabuhan Amuk, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali. (dok. Istimewa)
Foto: Lumba-lumba mati usai terdampar di Pelabuhan Amuk, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali. (dok. Istimewa)
Karangasem -

Sebanyak 7 ekor lumba-lumba terdampar di Pelabuhan Amuk, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali. Dari 7 ekor yang terdampar, 6 ekor berhasil dilepasliarkan kembali ke laut oleh masyarakat sekitar.

Sedangkan 1 ekor tetap terbawa ombak ke pinggir pantai walaupun sudah didorong untuk kembali ke laut. Kemudian tim World Wide Fund for Nature (WWF) dan Turtle Conservation and Education Center (TCEC) Serangan merelokasi 1 ekor lumba-lumba tersebut karena sudah dalam kondisi kritis.

"Setelah dipindahkan serta dilakukan pengamatan awal, kondisi lumba-lumba tersebut berontak dan tidak mau mengambang, tremor berat dan posisi tubuh cenderung miring ke kiri. Pada pagi hari lumba-lumba tersebut sudah dalam kondisi mati," kata Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, Permana Yudiarso dalam keterangan tertulis, Senin (16/8/2021).

Yudi menjelaskan, 7 ekor mamalia yang berjenis paus pembunuh kerdil dengan nama ilmiah Feresa attenuata atau pygmy killer whale tersebut awalnya ditemukan oleh Mangku Letra selaku ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) setempat. Satu ekor lumba-lumba yang mati kemudian dibawa ke Bali Exotic Marine Park untuk dilakukan proses nekropsi.

Menurut Yudi, proses nekropsi dilakukan oleh tim dokter hewan dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana (FKH Unud). Dari hasil pemeriksaan morfologi dan nekropsi diperoleh hasil yaitu panjang 213 cm, lingkar tubuh 110 cm dan jenis kelamin betina matang gonad.

Selain itu, didapatkan bahwa kemampuan bernapas lumba-lumba rendah yakni 5 menit sekali, terdapat luka lecet yang tidak dalam dan kondisi kulit ada yang terkelupas karena sudah terpapar sinar matahari sejak siang pukul 14.00 Wita.

Umur lumba-lumba tersebut diperkirakan 12-15 tahun dan tidak ada infeksi dalam organ. Hewan tersebut juga dalam dehidrasi ringan dan paru-paru sebelah kanan sudah tidak udara karena terisi air. Sedangkan paru-paru kiri ditemukan masih ada sedikit udara.

"Setelah dilakukan nekropsi, spesimen akan dikubur di belakang Bali Exotic Marine Park, Benoa," jelas Yudi.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Pamuji Lestari menerangkan bahwa lumba-lumba merupakan mamalia laut yang dilindungi. Hal itu berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Perlindungan hewan tersebut kemudian diperkuat dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 79/KEPMEN-KP/2018 tentang Rencana Aksi Nasional Konservasi Mamalia Laut.

"Lumba-lumba sudah menjadi salah satu mamalia laut yang dilindungi dalam dokumen Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Mamalia Laut periode 2018-2022. Tentunya ini sejalan dengan kebijakan Menteri Sakti Wahyu Trenggono untuk menjaga keberlanjutan ekosistem dan jenis ikan," terang Tari.

Tari menambahkan, salah satu strategi dalam menjaga keberlanjutan ekosistem dan jenis ikan tersebut adalah dengan mengurangi angka kematian lumba-lumba. Karenanya, penanganan kejadian lumba-lumba terdampar sangat perlu untuk segera dilakukan.

(nvl/nvl)