Komisi VIII soal Lomba BPIP: Masih Ada yang Haramkan Hormat Bendera

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 14 Agu 2021 08:27 WIB
Juru bicara TKN Jokowi-Maruf, Ace Hasan Syadzily.
Ace Hasan Syadzily (Azizah/detikcom)
Jakarta -

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) tengah dalam sorotan setelah menggelar lomba menulis bertema 'Hormat Bendera Menurut Hukum Islam' yang dinilai membenturkan nasionalisme dengan agama. Komisi VIII DPR meminta masyarakat tidak mempersoalkan lomba ini.

"Kalau kita melihat dari tujuan lomba ini memupuk rasa nasionalisme di kalangan santri dengan cara pandang menegaskan tentang menyanyikan lagu kebangsaan dari sudut pandang Islam dan hormat bendera sebagai suatu yang diperbolehkan atau mubah, ya seharusnya tidak ada masalah. Tidak perlu dipersoalkan," ujar Wakil Ketua Komisi VIII Ace Hasan Syadzily kepada detikcom, Jumat (13/8/2021).

Faktanya, terang Ace, masih ada pihak yang mengharamkan hormat bendera. Lomba tersebut, jelas Ace, dapat mendiskusikan secara utuh terkait hukum hormat bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan.

"Faktanya bahwa masih ada pihak yang mengharamkan hormat bendera misalnya. Dengan mengadakan lomba artikel dengan tema itu, para santri bisa menggali argumentasi secara Ilmiah tentang dua hal tersebut: hukum hormat bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan," tutur Ace.

Ace juga mengirimkan tautan berita kepada detikcom terkait salah satu organisasi yang kini sudah dinyatakan terlarang, yang menyimpulkan bahwa hormat bendera haram hukumnya.

Ace turut mengkritik politikus Gerindra Fadli Zon, yang menyebut lomba menulis artikel 'Hormat Bendera Menurut Hukum Islam' sebagai produk islamophobia. Ia meminta masyarakat tak perlu gaduh merespons lomba ini.

"Jadi kita tidak perlu terlalu berlebihan dengan menyebutnya sebagai islamphobia. Biasa saja. Dulu saat kami di pesantren, sering ditanya soal dalil kecintaan pada tanah air," paparnya.

Penjelasan BPIP soal Lomba

Diberitakan sebelumnya, poster terkait informasi lomba ini disampaikan BPIP melalui akun Twitternya, Rabu (11/8/2021). Lomba ini diadakan untuk memperingati Hari Santri Nasional.

Ada dua tema yang diusung dalam lomba penulisan artikel ini, yakni 'Hormat Bendera Menurut Hukum Islam' dan 'Menyanyikan Lagu Kebangsaan Menurut Hukum Islam'. Lomba ini berhadiah total Rp 50 juta.

Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo (Romo Benny) pun meluruskan maksud lomba artikel Hari Santri yang ramai diprotes itu. Dia mengatakan lomba ini memang dikhususkan untuk Hari Santri sehingga temanya pun disesuaikan.

"Khusus untuk hari Santri, BPIP memang membuat lomba-lomba yang dikhususkan untuk itu. Tapi BPIP juga akan membuat lomba-lomba untuk hari besar, seperti Natal, Waisak, atau hari besar Galungan, Konghucu," kata Romo Benny kepada wartawan, Jumat (13/8).

"Temanya kan memang khusus karena itu menyangkut santri kan. Kan nanti juga misalnya menurut Kristen gimana penghormatan bendera. Untuk agama Buddha, Konghucu, Hindu juga akan ada," lanjutnya.

Dia menegaskan tidak ada maksud membenturkan nilai agama dan nasionalisme sebagaimana narasi yang diviralkan. Menurutnya, tema itu dimaksudkan untuk memupuk rasa cinta pada Tanah Air.

"Nggak ada pembenturan itu. Nggak ada. Maksudnya ini memupuk cinta pada Tanah Air," ujarnya.

Simak juga 'dr Reisa Ingatkan Perayaan HUT RI Jangan Sampai Timbulkan Kerumunan':

[Gambas:Video 20detik]



(isa/jbr)