Pesan Wakil Ketua MPR bagi Guru Pondok Pesantren dalam Mendidik Santri

Angga Laraspati - detikNews
Minggu, 08 Agu 2021 12:04 WIB
MPR
Foto: Dok. MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid melakukan audiensi dengan para guru Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Sunanul Muhtadin di Desa Kertosono, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Sabtu (7/8) kemarin. Ia memberikan beberapa pesan kepada guru di ponpes tersebut dalam mendidik santri.

Jazilul menuturkan para guru memiliki tugas mulia dan tidak gampang. Karena itu dalam mendidik para santri, seorang guru harus serius serta melakukan dengan penuh keikhlasan.

"Guru dalam mengajar harus ikhlas. Kita para guru harus mendidik santri atau murid-murid kita layaknya kita mendidik anak kita sendiri," tutur Jazilul dalam keterangannya, Minggu (8/8/2021).

Menurutnya, mendidik siswa bukan perkara mudah dan hasilnya pun tidak bisa langsung bisa dilihat dalam waktu singkat. Ia menilai mendidik proses jangka panjang.

"Kalau sekarang di Ponpes Sunanul Muhtadin baru ada SMP, ini hanya rangkaian awal. Ke depan akan kita buka SMK atau SMA. Jadikan tempat ini sebagai ladang untuk mendidik anak-anak menjadi generasi muda yang pintar, berkualitas," imbuhnya.

Jazilul mengingatkan pentingnya menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Sebab, saat ini metode pembelajaran dengan banyak memberikan semacam hukuman (punishment) seperti yang dulu sering diterapkan, tidak lagi sesuai.

"Santri usia SMP itu memang masih banyak waktu untuk bermain. Maka cara pembelajaran juga perlu dengan banyak menyuguhkan permainan. Belajar yang menyenangkan," katanya.

Para guru juga diminta untuk menjadikan para santri cinta atau dekat dengan Alquran. Setiap hari, santri harus dibiasakan untuk membaca Alquran dan bersemangat untuk mencari ilmu.

"Senang untuk mencari ilmu itu basic-nya ya membaca. Anak-anak harus sering-sering diajak ke perpustakaan agar gemar membaca. Budaya membaca itu yang harus dikembangkan bagaimana anak-anak bergairah untuk membaca," tuturnya.

Sementara itu, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani yang memani Jazilul dalam acara tersebut mengatakan di tengah pandemi COVID-19 saat ini, pendidikan menjadi persoalan serius yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Sebab, sistem pembelajaran daring dinilai memang tidak cukup efektif.

"Tantangan kita luar biasa, apalagi di dunia pendidikan. Saya takut ketika menghadapi situasi ini generasi ke depan seperti apa. Saya khawatir akan mengalami generasi yang kosong karena kita belum terbiasa pendidikan daring," ungkapnya.

Dikatakan Yani, saat ini yang masih menerapkan proses belajar tatap muka hanya di pesantren karena proses pendidikan daring yang belum cukup optimal. Yani juga berpesan kepada para siswa dan guru yang melangsungkan pendidikan tatap muka agar tetap menjaga protokol kesehatan.

"Generasi muda harus terus berkarya dan bermanfaat," tuturnya.

Sementara itu, Ketua Pengawas Yayasan Sekolah Alquran Sunanul Muhtadin, Chalimatus Sa'diyah mengatakan ini merupakan tahun pertama proses belajar mengajar di SMP Al Maajid yang ada di Ponpes Sunanul Muhtadin.

Karena itu, pilot project ini harus berhasil. Sebab, tahun pertama ini akan sangat menentukan keberlanjutan dan juga menjadi rujukan. Chalimah juga mengingatkan para guru agar bisa mengajar dengan penuh keikhlasan.

"Kita harus memberikan yang terbaik. Anggap mereka anak-anak kita sendiri yang kita didik dengan penuh kasih sayang. Kita ajarkan mereka akhlaq-akhlaq Alquran," ucapnya.

(akn/ega)