Silaturahmi, Jazilul Fawaid Ungkap Peran Ulama yang Kurang Diperhatikan

Erika Dyah - detikNews
Rabu, 30 Jun 2021 23:27 WIB
Jazilul Fawaid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid melakukan silaturahmi ke sejumlah tokoh agama. Menurutnya, di tengah kondisi bangsa yang tengah menghadapi berbagai kesulitan akibat pandemi COVID-19, segala upaya harus dilakukan untuk keselamatan bangsa.

Ia menilai, upaya tersebut dapat dilakukan salah satunya dengan berkunjung ke para pemuka agama untuk memperkuat persatuan, sekaligus memohon doa untuk keselamatan bangsa. Diketahui pada Selasa (29/6), Jazilul mengunjungi KH Aliudin Zein Abdurrahman, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Terpadu Al Hikmah El-Ali Cinding, Pandawa, Kresek, Tangerang, Banten.

"Alhamdulillah saya senang sekali bisa berkunjung ke pesantren Abah Aliudin Zein Abdurrahman di Kresek ini. Beliau adalah tokoh sepuh panutan kita semua. Di tengah kondisi yang serba sulit ini, kita memohon doa kepada para ulama untuk keselamatan bangsa agar segera berakhir pagebluk ini, pandemi COVID-19 yang belakangan ini kondisinya semakin mengkhawatirkan," ujar Jazilul dalam keterangannya, Rabu (30/6/2021).

Ia mengatakan sejak zaman dahulu hingga saat ini, ulama merupakan pilar penyangga keselamatan bangsa. Sayangnya, terkadang peran ulama kurang mendapatkan perhatian.

Jazilul menerangkan sejak era penjajahan hingga pasca kemerdekaan, ulama kerap kali tersisihkan. Padahal, kemerdekaan bangsa tidak lepas dari peran besar para ulama yang dulu mengobarkan semangat jihad melawan penjajah dengan munculnya Resolusi Jihad.

"Setelah Indonesia merdeka dan menjadi sebuah negara, para ulama ini kan nggak punya ijazah. Ketika dibentuk tentara, pemerintahan karena masih dibayang-bayangi Belanda, tidak ada lulusan pesantren, yang ada para tokoh lulusan Barat. Tokoh-tokoh Islam yang bau-bau Timur Tengah pun dianggap tidak mampu memimpin oleh Belanda. Sementara para kiai kebanyakan tinggal di kampung-kampung dan mendirikan pesantren," katanya.

Dalam kesempatan ini, Jazilul pun banyak berbincang dengan Kiai Aliudin mengenai kiprah dan sepak terjang Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi. Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani al-Jawi merupakan ulama besar kelahiran Tanara, Serang, Banten yang menjadi Imam Besar Masjidil Haram dan penulis ratusan judul kitab keagamaan meliputi bidang ilmu fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis.

Jazilul menjelaskan berkat kemasyhurannya, Syekh Nawawi al-Bantani juga dijuluki Sayyid Ulama al-Hijaz (pemimpin ulama Hijaz), al-Imam al-Muhaqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq (Imam yang mnumpuni ilmunya), A'yan Ulama al-Qarn al-Ram Asyar li al-Hijrah (tokoh ulama Abad 14 Hijriyah), hingga Imam Ulama al-Haramain, (Imam 'Ulama Dua Kota Suci).

Jazilul pun menilai Syekh Nawawi al-Bantani sebagai tokoh pendahulu yang mendidik soal kebangsaan di Indonesia.

"Santri-santri beliau dari Indonesia termasuk Mbah Hasyim Asy'ari, Kiai Ahmad Dahlan, beliau yang mengajari soal cinta Tanah Air, rasa nasionalisme. Beliau bekerja dari Arab Saudi. Itulah hebatnya kiai-kiai zaman dahulu," jelasnya.

Jazilul pun mengungkap kekagumannya terhadap Syekh Nawawi. Ia bahkan mengaku sangat senang membaca salah satu kitab karangan Syekh Nawawi yakni Tafsir Marah Labid.

"Saya heran dan kagum bagaimana ulama-ulama dahulu, yang tidak ada fasilitas pendidikan seperti sekarang tapi bisa menjadi ulama besar seperti Syekh Nawawi al-Bantani, KH Hasyim Asy'ari, KH Cholil Bangkalan, dan sejumlah ulama besar lainnya," ungkapnya.

Sementara itu, dalam kesempatan ini Kiai Aliudin juga banyak berpesan kepada para pemimpin bangsa untuk benar-benar memperhatikan kesulitan masyarakat di bawah. Menurutnya, seorang pemimpin harus mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

"Pemimpin jangan pernah lupa pada rakyatnya yang di bawah," tutur Kiai Ali.

(mul/mpr)