Anti-politikus Ikan Lele, Andre Rosiade Minta Kerja Nyata di DPR-Dapil

Eva Safitri - detikNews
Kamis, 05 Agu 2021 16:09 WIB
Anggota Komisi VI DPR Fraksi Gerindra Andre Rosiade
Andre Rosiade (Foto: dok Andre Rosiade)
Jakarta -

Anggota DPR Fraksi Gerindra Andre Rosiade sepakat dengan PP Muhammadiyah yang menyerukan waspada terhadap 'politikus ikan lele'. Andre Rosiade menilai RI tidak membutuhkan politikus seperti itu.

"Di saat pandemi COVID sekarang yang dibutuhkan bangsa ini adalah persatuan, kerja sama dan gotong royong untuk bantu pemerintah menghadapi wabah pandemi," kata Andre kepada wartawan, Kamis (5/8/2021).

Anggota Komisi VI DPR ini mengatakan semua politikus harus bersama menyatukan pikiran untuk membantu pemerintah menghadapi persoalan pandemi. Politikus, baik di DPR maupun di dapil masing-masing, harus hadir di tengah publik.

"Bagi kita sebagai politisi yang harus kita lakukan adalah bagaimana berkontribusi positif terhadap penanganan wabah pandemi. Sebagai anggota DPR, misalnya, harus berkontribusi dalam rapat kerja di komisi yang kita bidangi untuk bantu pemerintah hadapi pandemi," ujarnya.

"Di dapil, politisi itu harus hadir di tengah masyarakat dan bisa meringankan beban masyarakat yang terdampak pandemi, banyak politisi diminta memberikan bantuan ke masyarakat, mencarikan solusi. Intinya anggota DPR harus hadir dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, itu kerja nyata dan dibutuhkan masyarakat di tengah pandemi," kata Andre.

Dia meminta semua elemen harus gotong royong berkontribusi meringankan beban rakyat. Tidak tepat menurutnya jika hanya saling menyalahkan.

"Intinya kita harus berkolaborasi bersama, bergotong-royong seluruh stake holder agar meringankan beban masyarakat. Tidak tepat di masa pandemi saling menyalahkan, semangatnya harus bersatu," ujarnya.

Sebelumnya, istilah 'politikus ikan lele' itu diungkapkan oleh Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti. Dia mengutip istilah itu dari Buya Syafi'I Ma'arif.

Menurutnya, sifat politikus ikan lele senang memperkeruh suasana dan mengadu domba di masa pandemi COVID-19. Itulah yang harus diwaspadai.

"Saya menyebut politisi ini tidak selalu mereka yang menjadi pengurus partai politik, tetapi orang yang pikirannya selalu mengaitkan berbagai keadaan itu dengan politik, berbagai persoalan dipolitisasi," kata Mu'ti.

"Politisi ikan lele itu adalah politisi yang semakin keruh airnya maka dia itu semakin menikmati kehidupannya sehingga karena itu sekarang ini banyak sekali orang yang berusaha memancing di air keruh dan banyak orang yang tidak sekadar memancing di air keruh tapi juga memperkeruh suasana," sambung Mu'ti.

Mu'ti menjelaskan politikus ikan lele adalah mereka yang bersikap partisan dan menggunakan popularitasnya sebagai pendengung. Di setiap kelompok partisan tersebut, Mu'ti menengarai selalu ada beberapa orang yang mengambil peran sebagai politikus ikan lele.

"Misalnya banyak yang mengaitkan dengan teori-teori konspirasi yang mengatakan bahwa COVID ini adalah buatan China, dan ini adalah cara China melumpuhkan Indonesia dan sebagainya. Saya kira pandangan-pandangan spekulatif itu tidak dapat kita benarkan tapi itu juga berseliweran di masyarakat sehingga dalam keadaan yang serba sulit seperti sekarang ini ada kelompok-kelompok tertentu yang saya pinjam istilahnya Buya Syafii Ma'arif itu seperti politisi ikan lele," jelas Mu'ti.

(eva/gbr)