PPP Anggap Politikus Ikan Lele Si Tukang Adu Domba

Eva Safitri - detikNews
Kamis, 05 Agu 2021 10:54 WIB
Wakil Ketua Baleg DPR RI Achmad Baidowi
Achmad Baidowi (Eva Safitri/detikcom)
Jakarta -

PP Muhammadiyah menyerukan kewaspadaan terhadap politikus ikan lele. Ketua DPP PPP Achmad Baidowi menilai seruan Muhammadiyah itu bentuk simpati di masa pandemi ini.

"Itu sebagai bentuk imbauan simpatik dari PP Muhammadiyah. Bahwa sejatinya di era pandemi ini semuanya harus bahu-membahu dan saling dukung, saling menguatkan untuk mengatasi COVID, yang semua negara tidak bisa mengelak," kata Awiek--sapaan akrabnya--kepada wartawan, Kamis (5/8/2021).

Awiek mengatakan pihaknya sepakat dengan imbauan Muhammadiyah. Menurutnya, politikus ikan lele hanya memicu perpecahan bangsa.

"Oknum politisi ikan lele justru semakin memicu adanya perpecahan bangsa ini dengan berselancar dam mengadu domba satu sama lain," ujarnya.

Dia mengatakan sifat politikus seperti itu hanya sembarang mengkritik tidak berdasarkan data. "Tentu saja (politikus ikan lele) beda dengan sifatnya kritik by data," lanjut Awiek.

Sebelumnya, politikus ikan lele itu diungkapkan oleh Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti. Dia mengatakan istilah politikus ikan lele itu adalah ungkapan yang dipinjamnya dari Buya Syafii Maarif.

Mu'ti menganggap sifat politikus ikan lele senang memperkeruh suasana dan mengadu domba di masa pandemi COVID-19.

"Saya menyebut politisi ini tidak selalu mereka yang menjadi pengurus partai politik, tetapi orang yang pikirannya selalu mengaitkan berbagai keadaan itu dengan politik, berbagai persoalan dipolitisasi," kata Mu'ti.

"Politisi ikan lele itu adalah politisi yang semakin keruh airnya maka dia itu semakin menikmati kehidupannya sehingga karena itu sekarang ini banyak sekali orang yang berusaha memancing di air keruh dan banyak orang yang tidak sekadar memancing di air keruh tapi juga memperkeruh suasana," sambung Mu'ti.

Mu'ti menjelaskan politikus ikan lele adalah mereka yang bersikap partisan dan menggunakan popularitasnya sebagai pendengung. Di setiap kelompok partisan tersebut, Mu'ti menengarai selalu ada beberapa orang yang mengambil peran sebagai politikus ikan lele.

"Misalnya banyak yang mengaitkan dengan teori-teori konspirasi yang mengatakan bahwa COVID ini adalah buatan China, dan ini adalah cara China melumpuhkan Indonesia dan sebagainya. Saya kira pandangan-pandangan spekulatif itu tidak dapat kita benarkan tapi itu juga berseliweran di masyarakat sehingga dalam keadaan yang serbasulit seperti sekarang ini ada kelompok-kelompok tertentu yang saya pinjam istilahnya Buya Syafii Maarif itu seperti politisi ikan lele," jelas Mu'ti.

(eva/tor)