ASEAN Tunjuk Menlu Brunei Jadi Utusan Khusus untuk Konflik Myanmar

Dwi Andayani - detikNews
Rabu, 04 Agu 2021 16:56 WIB
Jakarta -

ASEAN resmi menunjuk special envoy atau utusan khusus untuk membantu menyelesaikan konflik di Myanmar. Tugas sebagai utusan khusus ini diberikan kepada Menteri Luar Negeri Kedua Brunei Darussalam Erywan Yusof.

"Kesepakatan semua anggota ASEAN tanpa terkecuali yang penting untuk ASEAN keseluruhan dan ini di-drive oleh Indonesia ini adalah adanya rumusan yang konkret dan langsung tentang acceptance dari pihak Myanmar terhadap pelaksanaan 5 point of consensus dari ASEAN Ministerial Meeting bulan April yang lalu, kemudian adanya special envoy yaitu Menlu Brunei Datok Erywan," ujar Dirjen KS ASEAN Sidharto Suryodipuro dalam konferensi pers, Rabu (4/8/2021).

Sidharto mengatakan adanya komitmen yang konkret bahwa utusan khusus ini segera memulai kerja serta melaporkan hasil proses dalam pertemuan tingkat menlu mendatang.

"Adanya komitmen yang konkret bahwa special envoy akan segera memulai kerjanya, akan ada time line, akan diberikan akses penuh pada semua pihak di Myanmar dan agar special envoy itu melapor pada pertemuan tingkat menlu mendatang di bulan September," tuturnya.

Dia menuturkan pembahasan dilakukan berlangsung cukup lama dan alot. Namun dia mengatakan seluruh anggota ASEAN kompak menilai bahwa 5 point of consensus mendesak dan perlu dilaksanakan tanpa syarat.

"Di sini selama pembahasan yang cukup alot, ASEAN itu kompak dalam pengertian semua memandang bahwa pelaksanaan 5 point of consensus itu mendesak, urgen, berpandangan bahwa ini harus dilakukan tanpa persyaratan. Jadi jangan dikaitkan dengan hal-hal lain," kata Sidharto.

"Selama proses yang berlangsung ini, Menlu Indonesia Retno Marsudi berada di depan bersama menlu yang lainnya. Posisi Indonesia itu sejak semula sangat bahwa pada saat AAM sekarang ini sudah harus ada keputusan soal special envoy dan mengenai komitmen Myanmar. Hasilnya hal-hal tersebut disepakati setelah suatu proses yang cukup panjang dan cukup alot," tuturnya.

Menurutnya, saat ini pihak Myanmar perlu bekerja sama untuk berhasil keluar dari krisis yang dihadapi. Terlebih krisis juga bersamaan dengan adanya situasi politik dan pandemi.

"Sekarang ke depannya Myanmar harus bekerja sama dalam konteks ASEAN karena, bagaimanapun, kesuksesan special envoy akan merupakan keberhasilan dari Myanmar untuk keluar dari krisis ini yang sekarang sudah berlapis-lapis, ada situasi politik, ada situasi ekonomi, ditambah lagi situasi COVID-19. Jadi kita semua menghendaki pihak Myanmar special envoy akan sukses," ujarnya.

Selain itu, dikatakan juga bahwa pusat kemanusiaan ASEAN perlu segera memberikan bantuan kemanusiaan kepada Myanmar. "AHA Center pusat bantuan kemanusiaan ASEAN perlu segera memberikan bantuan kemanusiaan Myanmar," tuturnya.

(dwia/tor)