Ahli ITB: Kalau Peneliti Asing Nginap di Hotel, Kami di Masjid

Deden Gunawan - detikNews
Rabu, 04 Agu 2021 08:39 WIB
Jakarta -

Lebih dari 20 tahun Heri Andreas meneliti penurunan tanah di Jakarta dan berbagai wilayah pesisir di Jawa, Sumatera, hingga Kalimantan. Aktivitas itu lebih banyak menggunakan kocek pribadinya ketimbang mengajukan dana dari pemerintah. Doktor bidang geodesi dari ITB itu juga akhirnya memutuskan tidak menjalin kerja sama dengan pihak asing karena merasa tidak ada prinsip kesetaraan.

"Ya, kalau peneliti bule-bule itu sehabis dari lapangan bisa istirahat di hotel berbintang, kalau kita paling cari masjid atau pom bensin," kata Heri Andreas dalam program Blak-blakan di detik.com, Rabu (4/8/2021).

Dia mengaku kurang antusias mengajukan proposal penelitian ke pemerintah untuk mendapatkan dana karena harus berkompetisi dengan para peneliti lain. Padahal dana yang dikucurkan sebetulnya tidak besar-besar amat.

Beruntung, dia punya banyak proyek penelitian dari kalangan swasta, seperti dari perusahaan minyak. Honornya dia tabung dan digunakan untuk membiayai penelitian secara mandiri. Hingga sekarang dia mengaku tak punya rumah pribadi kecuali mobil untuk mobilitasnya ke berbagai daerah.

Dalam 10 tahun terakhir Heri Andreas cukup intens melakukan penelitian terkait penurunan tanah di Pekalongan, Semarang, dan Demak. Dia juga kemudian menyusuri pantai timur Sumatera, lalu ke Kalimantan Barat dan Selatan. Heri, yang saat ini menjabat Kepala Laboratorium Geodesi ITB, sudah terlibat dalam penelitian terkait penurunan tanah di Jakarta sejak mahasiswa pada 1997. "Saya punya banyak data karena setiap tahun keliling ke berbagai daerah," ujarnya.


"Semua butuh proses, saya percaya pada waktunya tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mengantisipasi bencana terburuk akan dilakukan," ujarnya. Apa yang membuat Heri Andreas tertarik meneliti soal penurunan tanah di pesisir? Ia mengaku kerap trenyuh mendengarkan curhat warga yang selalu jadi korban banjir rob. Toh begitu, dia juga harus merawat energi kesabarannya saat berhadapan dengan para pengambil kebijakan yang tak serta merta mau mendengar hasil penelitiannya.

(jat/jat)