Mahasiswa Diduga Dikeroyok Satpam di Sentra Vaksin GBK, 3 Orang Diperiksa

Yogi Ernes - detikNews
Senin, 02 Agu 2021 19:32 WIB
Ilustrasi penganiayaan (dok detikcom)
Ilustrasi Pengeroyokan (Dok. detikcom)
Jakarta -

Kasus pengeroyokan yang diduga dilakukan petugas satpam sentra vaksinasi di Gelora Bung Karno (GBK) terhadap mahasiswa bernama Zaelani (26) kini tengah diusut polisi. Sejumlah pihak telah dimintai keterangan.

"Dari pelapor (sudah diperiksa). Kita juga sudah visum. Nanti saksi lagi. (Sekarang) sudah tiga orang (diperiksa)," kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat Kompol Wisnu Wardhana saat dihubungi, Senin (2/8/2021).

Laporan dari Zaelani telah terdaftar di Polres Metro Jakarta Pusat pada Sabtu (31/7). Kasus itu kini ditangani di Unit Kamneg (Keamanan Negara) Polres Metro Jakarta Pusat.

Terkait pemeriksaan para satpam di sentra vaksinasi GBK yang diduga terlibat pengeroyokan korban, polisi kini masih mengumpulkan bukti dari pelapor terlebih dahulu. Namun Wisnu menyebut ada pasal pidana yang dilanggar para satpam jika peristiwa pengeroyokan itu terbukti.

"Kalau dia lebih dari satu orang, (melanggar) 170 KUHP tentang Pengeroyokan atau 351 KUHP tentang Penganiayaan," ungkap Wisnu.

Kasus dugaan pengeroyokan itu terjadi pada Jumat (30/7). Saat itu korban mendatangi sentra vaksinasi di GBK untuk meminta sertifikat vaksin COVID-19.

Pengacara Zaelani, Rezekinta Sofrizal Nasution, mengatakan kliennya sempat menghubungi nomor hotline terkait informasi sertifikat vaksin COVID-19 itu. Dari pihak petugas hotline lalu mengarahkan Zaelani untuk meminta ke tempat dia mendapatkan vaksin.

Kliennya lalu mendatangi sentra vaksinasi GBK tempatnya mendapatkan vaksin COVID-19. Namun di sana kliennya tidak mendapatkan kejelasan perihal sertifikat tersebut.

Zaelani lalu didatangi oleh 6 petugas satpam di lokasi. Setelah sempat berselisih paham, Rezekinta mengatakan kliennya dipukul dan diintimidasi oleh para satpam di lokasi.

"Jadi memang perasaan dia ada yang mukul satu. Jadi dipukul sekali pelipisnya langsung keluar darah dan keluar darah juga dari hidung. Yang lainnya ada yang melempar pakai handphone tapi dia sempat menghindar," kata Rezekinta saat dihubungi.

Zaelani lalu dibawa ke pos sekuriti setempat. Di sana dia kembali diintimidasi dan diminta menandatangani surat perdamaian.

"Mungkin karena posisi darah masih ngocor dan nggak lama kawannya yang dampingi dia akhirnya bilang 'ya udah bikin aja bikin'. Akhirnya bikin tanda tangan meterai dan disuruh pulang tanpa ada pemberian biaya pengobatan," ungkap Rezekinta.

(ygs/jbr)