Ibu Korban 99 Aplikasi Pinjol Surati Jokowi Minta Fintech Ilegal Diberantas

Andi Saputra - detikNews
Senin, 02 Agu 2021 13:41 WIB
Presiden Jokowi
Presiden Jokowi (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Seorang ibu dari Depok, Y menyurati Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Financial technology (Fintech) ilegal untuk diberantas. Y merupakan ibu single parents yang terjebak masuk lingkaran setan usai terjerat 99 aplikasi pinjaman online (pinjol). Keadaan semakin buruk karena ibu 1 anak itu mengidap kanker.

"Surat kami kirimkan kepada Ketua Satgas Waspada Investasi dengan tembusan kepada Bapak Presiden RI," kata kuasa hukum Y, Slamet Yuono kepada wartawan, Senin (2/8/2021).

Slamet dkk mendampingi Y secara probono karena tergerak atas dasar kemanusiaan. Selain menyurati Presiden Jokowi, Y juga menyurati Ketua Komisi XI DPR, Menteri Komunikasi dan Informatika, Ketua Dewan Komisioner OJK, Kapolri dan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI).

Dalam suratnya, Y meminta pemerintah melakukan investigasi atas keberadaan 99 pinjol yang telah menjerat dan mengintimidasi Y. Bahkan, ada 3 pinjol ilegal yang melakukan jual beli data pribadi Y. Padahal, Y tidak pernah meminjam tapi ditagih.

"Kami meminta Ketua Satgas berkoordinasi dengan Bareskrim Polri untuk memproses secara pidana terhadap fintech ilegal yang diduga kuat melakukan intimidasi akses data secaar ilegal, beroperasi secara ilegal dan diduga melakukan jual beli data pribadi nasabah," ucap Slamet.

Slamet meminta pemerintah tidak saling lempar tanggungjawab. Semua sektor pemerintah yang bersinggungan dengan pinjol untuk ikut aktif memberantas aplikasi yang telah menjerumuskan masyarakat ke jurang rentenir itu.

"Satgas berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI dan instansi terkait lainnya, agar pinjol olegal yang telah diblokir dan ditutup tidak beroperasi lagi," cetus Slamet.

Pinjol ilegal itu bak hantu bagi masyarakat. Mereka melakukan pemotongan biaya yang tinggi dan mengakses kontak Hp dan data pribadi di Hp serta melakukan teror kepada masyarakat.

"Mereka tidak takut terhadap aparat penegak hukum, tidak mengikuti aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan sangat meresahkan serta banyak memakan korban di tengah pandemi Covid saat ini," tuturnya.

Sebagaimana diketahui, awalnya Y meminjam untuk membayar biaya kuliah. Sebab, Y adalah tulang punggung keluarga dan penghasilan ibu muda usia 29 tahun itu tidak cukup untuk biaya hidup anak dan ibunya. Sebagai karyawan swasta, gajinya dirasa tidak cukup. Apalagi di era PPKM Darurat, perusahaan melakukan pemotongan gaji di sana-sini.

Y menceritakan pinjaman pertamanya sebesar Rp 5 juta dari lima aplikasi. Tapi tiba-tiba bunganya membengkak dan harus dilunasi dalam waktu 7 hari kerja. Akhirnya Y masuk lubang setan dengan kembali meminjam di aplikasi lain untuk menutupi utang dari aplikasi lain. Hingga kini tercatat 99 aplikasi yang dipinjami.

"Per aplikasi pinjam Rp 1.072.000 tapi harus mengembalikan Rp 1,6 juta per aplikasi," kisah Y menceritakan awal meminjam beberapa waktu lalu.

Dari Rp 5 juta, utang Y beranak pinak, bunga berbunga. Teror SMS, WhatsApp, dan telepon ia terima tiap jam tiada henti. Kata-kata kasar dan umpatan dikirim dari nomor-nomor yang tidak ia kenal. Sebagai single parents, Y mengaku sudah pasrah atas nasibnya.

"Semua untuk gali lobang-tutup lobang karena mereka menagih tidak sesuai jadwal dan jika tidak saya bayar minimal perpanjangan mereka mengancam. Saya sudah tidak sanggup lagi," kata Y.

Lihat Video: Ribuan SIM Card Teregistrasi Pinjol, Polri 'Colek' Kominfo-Dukcapil

[Gambas:Video 20detik]



(asp/mae)