Mengupas Fenomena Langit Putih yang Dikaitkan dengan Pergantian Zaman

Tim detikcom - detikNews
Senin, 02 Agu 2021 11:13 WIB
Pantai Pangandaran ramai didatangi wisatawan jelang Natal dan tahun baru. Tak sedikit wisatawan datang untuk menikmati pemandangan matahari terbenam
Ilustrasi matahari terbit. (Faizal Amiruddin/Detikcom)
Jakarta -

Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mengupas fenomena 'surya pethak', yang dalam sebuah ramalan Sabdo Palon Noyo Genggong disebutkan menjadi salah satu tanda pralaya atau pergantian zaman. Dari sisi astronomis, fenomena 'surya pethak' atau langit memutih itu memang wajar terjadi. Begini penjelasannya.

Ramalan Pergantian Zaman

Fenomena 'surya pethak' kerap dikaitkan dengan ramalan Sabdo Palon Noyo Genggong. Dalam salah satu ramalan itu, disebutkan bahwa salah satu tanda akan terjadinya sebuah pralaya atau pergantian dari zaman lama ke zaman baru adalah terjadinya 'surya pethak'.

"Secara harfiah, 'surya pethak' bermakna matahari (tampak) memutih," kata peneliti dari Pusat Sains Antariksa Lapan Andi Pangerang, seperti dikutip dari situs Lapan, Senin (2/8/2021).

Sinar Matahari Tak Begitu Terik

Andi menjelaskan fenomena 'surya pethak' dapat dimaknai sebagai alam sunya ruri atau siang hari yang temaram seperti malam hari. Siang hari yang dimaksud adalah sejak matahari terbit hingga matahari terbenam. Andi mengatakan fenomena 'surya pethak' membuat sinar matahari tidak begitu terik.

"Sinar matahari yang biasa kemerahan ketika terbit dan terbenam akan memutih, sedangkan ketika matahari meninggi, sinar matahari tidak begitu terik dikarenakan terhalang oleh semacam kabut awan," kata Andi.

Andi mengatakan fenomena 'surya pethak' ini dapat berlangsung selama 7 hari hingga paling lama 40 hari. Adapun efek dari 'surya pethak' akan membuat suhu permukaan Bumi menjadi lebih dingin.

Matahari dan Langit Kemerahan

Andi pun menjelaskan soal mengapa matahari dan langit terlihat kemerahan ketika terbit dan terbenam. Dia juga menjelaskan mengenai mengapa, saat siang hari, matahari berwarna putih dan langit berwarna biru.

Menurut Andi, hal itu disebabkan oleh fenomena Hamburan Rayleigh yang menghamburkan spektrum cahaya tampak sesuai dengan jarak yang ditempuh sinar matahari saat melalui atmosfer. Dia mengatakan kondisi ideal ini hanya akan terjadi jika kualitas udara benar-benar bagus dan bersih.

"Hal ini dikarenakan kualitas udara yang akan dilalui sinar matahari juga dapat memengaruhi warna matahari saat terbit dan terbenam. Partikel debu dan polutan cenderung mengurangi warna di langit serta menghalangi cahaya mencapai mata pengamat di permukaan Bumi. Karena itu, langit berwarna merah dan kuning kusam saat udara penuh debu dan polutan," tuturnya.

Apakah Surya Pethak Akan Terjadi di Waktu Dekat?

Jika mengaitkan aktivitas matahari dengan fenomena 'surya pethak', Andi mengatakan, ada kemungkinan kabut awan yang menghalangi sinar matahari melalui atmosfer bumi terjadi ditimbulkan oleh letusan gunung berapi. Selain itu, ada kemungkinan ditimbulkan oleh perubahan sirkulasi air laut yang dapat meningkatkan penguapan uap air.

"Sangat kecil kemungkinan kabut awan yang menyelimuti permukaan Bumi ditimbulkan oleh penurunan aktivitas matahari berkepanjangan, seperti yang pernah terjadi pada tahun 1645 hingga 1715," kata Andi.

"Selain itu, ada contoh lainnya dalam sejarah ketika aktivitas minimum matahari berkorelasi dengan suhu yang lebih tinggi di Bumi. Oleh karenanya, hubungan antara siklus matahari dan pendinginan iklim jelas tidak terkait sama sekali," imbuh dia.

Karena itu, menurut Andi, fenomena 'surya pethak' tidak akan terjadi dalam waktu dekat jika dikaitkan dengan aktivitas matahari. Namun, fenomena ini masih dapat dimungkinkan terjadi oleh letusan gunung berapi dan perubahan sirkulasi air laut yang hingga saat ini masih sulit diprediksi.

"Dalam waktu dekat ini, fenomena 'surya pethak' tidak akan terjadi setidaknya jika dikaitkan dengan aktivitas matahari. Akan tetapi, fenomena ini masih dapat dimungkinkan terjadi oleh letusan gunung berapi dan perubahan sirkulasi air laut yang hingga saat ini masih sulit diprediksi oleh para ilmuwan vulkanologi dan oseanografi," ungkap Andi.

(mae/fjp)