Jerit Rakyat Vs Saran Pakar soal Kelanjutan PPKM Level 4

Tim detikcom - detikNews
Senin, 02 Agu 2021 10:04 WIB
Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat (Jakpus) sepi pengunjung selama masa PPKM Level 4. Banyak pedagang yang pada akhirnya memilih untuk menjual hingga menyewakan tokonya. (Adhyasta/detikcom)
Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat (Jakpus) sepi pengunjung selama masa PPKM Level 4. Banyak pedagang yang pada akhirnya memilih untuk menjual hingga menyewakan tokonya. (Adhyasta/detikcom)

Pakar Sarankan PPKM Level 4 Dipertahankan

Nasib PPKM level 4 ditentukan hari ini. Epidemiolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riono, menyarankan agar PPKM level 4 ini dipertahankan.

"Perlu dipertahankan PPKM Level 4," kata Pandu Riono kepada wartawan, Minggu (1/8/2021).

Dia pun menjelaskan sejumlah alasan krusial mengapa PPKM level 4 perlu diperpanjang. Salah satunya karena tes dan tracing masih lemah. Selain itu, varian Delta disebut sudah menyebar ke luar Jawa-Bali.

"Tes-Lacak-Isolasi dan 3M masih lemah. Belum lagi vaksinasi masih lamban. Delta sudah menyebar ke luar Jawa-Bali, dan sarana layanan kesehatan sangat minim. Kasus menurun tapi positivity rate tidak turun, bahkan cenderung naik," jelasnya.

Hal senada disampaikan oleh pakar sosiologi bencana dari Universitas Teknologi Nanyang Singapura, Prof Sulfikar Amir. Dia mulanya menjelaskan bahwa memang saat ini kasus Corona di Jawa-Bali cenderung menurun. Dia menilai Jawa-Bali telah mendapat efek dari PPKM darurat hingga PPKM level 4.

"Kalau kita lihat Jawa-Bali ada kecenderungan turun. Walaupun Bali itu masih kritis. Lalu Provinsi seperti Jakarta jumlah kasusnya tampak menurun cukup signifikan, Jawa Timur saya nggak terlalu yakin, sama Jawa Tengah. Jawa Barat cukup menurun. Tapi secara keseluruhan Jawa-Bali ini bisa dibilang sudah merasakan PPKM darurat hingga level 4 ini," kata Sulfikar Amir kepada wartawan, Minggu (1/8/2021).

Kendati demikian, dia menyarankan pemerintah tidak melakukan pelonggaran pembatasan yang terlalu cepat. Pasalnya, secara agregat kasus Corona harian masih tinggi.

"Saya menyarankan pemerintah tidak melakukan pelonggaran terlalu cepat. Karena secara agregat jumlah kasus hariannya masih tinggi. Walaupun ada daerah yang menurun. Tapi daerah-daerah terkoneksi satu sama lain. Jadi ketika ada satu daerah yang menurun, dia akan naik lagi ketika ada pelonggaran," ungkapnya.

Dia mengatakan pemerintah harus fokus dalam penanganan di luar Pulau Jawa-Bali. Sebab, fasilitas kesehatan di beberapa daerah di luar Jawa-Bali sangat terbebani.

"Concern di luar Jawa-Bali. Di Papua, Kalimantan, dan Sumatera, jadi fasilitas kesehatannya sudah sangat berat. Jadi ada kenaikan status daruratnya. Jadi harus seperti level 4 di Jawa-Bali," tuturnya.

Selain itu, dia mendorong pemerintah melakukan pengetatan pembatasan di luar Jawa-Bali. Mobilitas orang dari luar Jawa-Bali juga harus diperketat.

"Saran saya luar Jawa-Bali ini diperketat pembatasannya. Dan saat bersamaan, orang-orang di luar Jawa mobilitasnya harus dibatasi sangat ketat. Supaya kasusnya tidak kembali ke Jawa," jelasnya.


Lalu, apakah PPKM level 4 akan diperpanjang?

PPKM Level 4 akan berakhir hari ini, 2 Agustus 2021. Pemerintah pun akan mengumumkan apakah akan memperpanjang PPKM Level 4 atau tidak besok.

"Iya rencananya demikian (nasib PPKM level 4 diumumkan hari ini)," kata Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jodi Mahardi kepada detikcom, Minggu (1/8/2021).

Seperti diketahui, pemerintah sebelumnya memutuskan melaksanakan PPKM Darurat sejak 3 hingga 20 Juli di Pulau Jawa-Bali. Kemudian, pemerintah mengubah nama kebijakan tersebut menjadi PPKM Level 4 dan memperpanjang mulai 21-25 Juli. Pemerintah kemudian kembali memperpanjang PPKM Level 4 mulai 26 Juli hingga 2 Agustus 2021.


(rdp/tor)