Round-Up

Lara Siswi Asal Mamasa Gagal Jadi Paskibraka Gegara Corona

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 31 Jul 2021 07:51 WIB
Mamasa -

Pupus harapan Cristina (16) untuk bisa menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional di Istana Negara. Dia gagal setelah dinyatakan positif Corona.

Namun keluarga siswi asal Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar) ini tidak begitu saja terima. Mereka menilai ada kejanggalan dari batalnya Cristina menjadi calon anggota Paskibraka.

Keluarga merasa aneh karena Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sulbar tidak memberikan penanganan sesuai protokol kesehatan setelah Cristina dinyatakan positif COVID-19.

"Kalau kami dari pihak keluarga yang paling janggal bagi kami, karena pada saat anak kami dinyatakan Corona, baru pihak Dispora tidak pernah bekerja sama dengan satgas untuk menangani anak kami," ujar paman Cristina, Habel, kepada wartawan melalui sambungan telepon, Kamis (29/7/2021).

Dia mengatakan Cristina dalam kondisi baik-baik saja sebelum dinyatakan positif COVID-19 pada Sabtu (24/7).

Tak percaya dengan hasil tersebut, keluarga membawa Cristina swab test lagi pada Senin (26/7). Berdasarkan hasil yang keluar pada Selasa (27/7), Cristina dinyatakan negatif COVID-19.

Pihak keluarga heran karena ada perbedaan hasil tes swab yang hanya berselang sehari setelah dinyatakan positif COVID-19.

"Ternyata si anak kami negatif Corona, jauh beda dengan hasil pemeriksaan sebelumnya," beber Habel.

Meski menilai ada kejanggalan, Habel enggan menyebut Cristina gagal jadi Paskibraka akibat unsur kesengajaan.

"Ai, tidak berani menuduh, silakan waktu yang menjawab semuanya, biarlah kita percayakan kalau Tuhan akan menyertai perjuangan ini," katanya.

Dugaan kejanggalan ini juga ramai dibahas di media sosial (medsos). Banyak yang menyoroti soal status positif COVID-19 Cristina hingga sosok penggantinya.

Kondisi Cristina menjadi tidak stabil. Cristina masih menenangkan diri di rumah kerabatnya.

"Cristina sementara dalam pengamanan keluarga, karena ananda Cristina masih syok dengan kejadian ini. Sementara kami bersepakat untuk tidak mempertemukan Cristina dengan siapapun, karena kondisinya sedang kurang memungkinkan," imbuh Habel.

Batalnya Cristina menjadi calon Paskibraka Nasional makin dibahas. Apalagi pihak Dispora Sulbar mengirim calon pengganti dan dinilai tidak sesuai dengan surat keputusan yang telah ditetapkan.

Berdasarkan surat berita acara hasil keputusan tim seleksi paskibraka tingkat nasional Provinsi Sulbar tahun 2021, yang berhak menggantikan Cristina bernama Nuraliyah asal Kabupaten Pasangkayu. Namun pihak Dispora Sulbar, mengutus calon lain bernama Anggi Pricilia Tamuntuan dari Kabupaten Mamasa.

Penjelasan Dispora Sulbar

Kepala Dispora Sulbar, Muhammad Hamzih, menjelaskan soal posisi Cristina diganti Anggi. Dia bicara soal keterbatasan waktu.

"Sebenarnya dari seleksi kemarin Pasangkayu, tetapi dilihat dari ritme waktu yang begitu tidak mungkin, karena pemberangkatan kan panjang prosesnya, tidak hanya langsung kan, tetapi juga diperiksa apa semuanya, saya kira Pasangkayu mengerti, hasil komunikasi Kabid saya dengan Pasangkayu mengerti itu kondisi," beber Hamzih.

Hamzih mengaku pihaknya telah berupaya meminta tenggang waktu untuk memulihkan kondisi Cristina agar tetap dapat diberangkatkan ke Jakarta sebagai salah satu calon anggota Paskibraka Nasional.

"Saya sudah berkeras dengan Jakarta lewat Kabid. Sampaikan bahwa, agar diberi kesempatan kepada kami, dengan harapan, agar anak yang bersangkutan (Cristina) bisa dites ulang agar negatif," ujar Hamzih.

Sayangnya, menurut Hamzih, batas waktu yang diberikan pihak Jakarta untuk mempersiapkan calon anggota Paskibraka dari Sulbar sangat terbatas.

"Jadi apa namanya, tidak bisa, dia hanya beri waktu sampai hari Senin, sementara kan prosesnya kan panjang itu kalau kita mau swab lagi, didata, mana semua dan sebagainya persiapan untuk penggantinya, itu kan sulit, maka kita mengambil jalan kedua memberangkatkan cadangan berikutnya," kata Hamzih.

Simak berita selengkapnya di halaman berikutnya.

Kemenpora Angkat Bicara

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) angkat bicara mengenai batalnya Cristina menjadi anggota Paskibraka Nasional setelah dinyatakan positif COVID-19.

Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora Asrorun Ni'am Sholeh menjelaskan penetapan calon Paskibraka nasional (capasnas) wakil provinsi menjadi kewenangan penuh provinsi, termasuk penggantiannya.

"Penggantian capasnas putri dari Sulawesi Barat atas nama Kristina kepada Anggie Fricilia Tamuntuan dilakukan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sulawesi Barat dengan pertimbangan hasil swab test PCR Kristina positif COVID. Pemeriksaan dilakukan oleh Balai POM Mamuju dengan hasil positif. Syarat swab test PCR bagi Paskibraka memang diberlakukan semata untuk kebaikan bersama," kata Ni'am melalui keterangan tertulis, Jumat (30/7).

Ni'am menjelaskan, sesuai dengan Permenpora Nomor 14 Tahun 2017, seleksi dan rekrutmen calon Paskibraka nasional sepenuhnya diserahkan dan dilakukan oleh provinsi. Melalui rekrutmen dan seleksi tingkat Provinsi, 1 putra dan 1 putri terbaik sebagai utusan provinsi yang direkrut dan dikirim untuk menjadi Paskibraka tingkat nasional.

"Kemenpora menerima nama peserta yang sudah ditetapkan oleh provinsi untuk dilaksanakan diklat, termasuk penentuan pengganti jika yang utama berhalangan untuk berangkat," ujarnya.

Ni'am mengungkapkan, sesuai jadwal, kedatangan peserta diklat Paskibraka dari provinsi ke Jakarta adalah 25 Juli 2021. Sebelum berangkat ke Jakarta, seluruh peserta menjalani tes swab PCR sebagai salah satu upaya preventif untuk mendeteksi paparan COVID-19 dan syarat dalam perjalanan, sebagaimana diatur dalam SE Kemenhub No 53 tahun 2021 tentang Perubahan atas Surat Edaran Menhub No 45 tahun 2021 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perjalanan Orang Dalam Negeri dengan Transportasi Udara pada Masa Pandemi COVID-19.

Ni'am mengatakan Kemenpora juga telah meminta klarifikasi dan mencari informasi yang utuh kepada Dinas Pemuda dan Olahraga Sulawesi Barat setelah menerima pengaduan melalui surat terbuka dari Melkisedek Takatio, yang disebut sebagai kakak Kristina. Klarifikasi tersebut dilakukan agar jelas duduk masalah dari kasus tersebut.

"Berdasarkan keterangan Kadispora, penggantian dilakukan karena didasarkan pada hasil tes swab PCR yang menyatakan positif dan digantikan dari kabupaten yang sama, bahkan sekolah yang sama; dari Kristina ke Anggie Fricilia Tamuntuan, sama-sama dari SMAN I Mamasa," kata Ni'am.

Berikut kronologi proses keberangkatan capasnas dari Sulbar ke Jakarta menurut Niam:

24 Juli

Delegasi dari Provinsi Sulawesi Barat adalah (1) Arya Maulana dan (2) Kristina. Jelang keberangkatan ke Jakarta, keduanya melakukan tes swab PCR, hasilnya diketahui pada tanggal 24 dinyatakan positif COVID-19.

Keduanya sudah dibelikan tiket atas nama yang bersangkutan oleh Kemenpora atas surat yang disampaikan oleh Dinas Pemuda Sulawesi Barat. Atas hasil tersebut, Dispora Provinsi mengambil langkah berikutnya, yaitu memanggil cadangan sebagai pengganti, yaitu (1) Muhammad Juandi Aly dan (2) Anggie Fricilia Tamuntuan dan dilaporkan ke Kemenpora.

26 Juli

Muhammad Juandi Aly dan Anggie Fricilia Tamuntuan kemudian menjalani tes swab PCR pada 26 Juli 2021, dan malam harinya diperoleh hasil negatif.

27 Juli

Atas hasil tersebut, pada 27 Juli 2021, jam 10.00 WIB, pihak Dispora mengirimkan dua nama cadangan capasnas untuk dipesankan tiket oleh Kemenpora. Tanggal 27 Juli 2021, Muhammad Juandi Aly dan Anggie Fricilia Tamuntuan berangkat 18.30 Wita dari Makassar menuju Jakarta, dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta pukul 20.40 WIB, serta tiba di Cibubur pukul 21.50 WIB.

(jbr/eva)