Begini Modus Pinjol yang Fitnah Nasabah sebagai Bandar Narkoba

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Kamis, 29 Jul 2021 17:07 WIB
Jakarta -

Dittipideksus Bareskrim Polri membekuk 8 pelaku pinjaman online (pinjol) ilegal bernama KSP Cinta Damai yang diduga melakukan pencemaran nama baik dengan memfitnah nasabahnya sebagai bandar narkoba. Bagaimana modus para pelaku pinjol ilegal ini melakukan teror kepada para nasabahnya?

Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Helmy Santika menjelaskan kejadian bermula pada 7 Juni 2021. Saat itu, ada seorang korban yang merupakan nasabah KSP Cinta Damai yang mengaku diancam oleh pihak pinjol ilegal tersebut.

"Pada tanggal 7 Juni 2021, Dittipideksus Bareskrim Polri menerima pengaduan dari nasabah aplikasi pinjaman online KSP Cinta Damai, mengenai adanya pengancaman, pencemaran nama baik, dan perbuatan fitnah yang dilakukan terhadap nasabah tersebut oleh desk collection KSP Cinta Damai," ujar Helmy kepada wartawan, Kamis (29/7/2021).

Helmy mengatakan pihak KSP Cinta Damai menghubungi korban melalui aplikasi WhatsApp. Korban mengaku diminta melunasi utang dengan menggunakan kata-kata kasar dan kotor.

"Dan di saat itu juga korban menerima kiriman foto korban yang telah diedit. Di mana dalam foto tersebut, korban dinyatakan bahwa selain mempunyai utang di KSP Cinta Damai, korban merupakan salah satu bandar narkoba yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Polda Sumut," tuturnya.

Polri tangkap 8 pelaku pinjol ilegal yang diduga mencemarkan nama baik nasabah, Kamis (29/7/2021).Foto: Polri tangkap 8 pelaku pinjol ilegal yang diduga mencemarkan nama baik nasabah (Adhyasta Dirgantara/detikcom)

"Apabila korban tidak segera melunasi utang atau segera melunasi keterlambatan angsuran, maka foto korban tersebut akan dikirimkan oleh desk collection KSP Cinta Damai ke seluruh kontak di hp korban," sambung Helmy.

Setelah dilakukan penyelidikan, kata Helmy, ternyata KSP Cinta Damai merupakan produk dari aplikasi pinjol Dana Cepat. Ada produk lain atas nama KSP lainnya di dalam pinjol Dana Cepat, yakni KSP Hidup Hijau, KSP Tur Saku, dan KSP Pulau Bahagia.

Helmy membeberkan semua KSP itu fiktif. Alhasil, Bareskrim menangkap 8 pelaku pinjol ilegal itu di Jakarta Barat, Medan (Sumatera Utara), dan Tangerang (Banten). Mereka adalah DEA, YB, C, E, B, A, S, dan R.

Lebih lanjut, Helmy mengungkapkan para pelaku menawarkan pinjaman uang dengan tenor panjang dan suku bunga rendah kepada nasabah. Namun, di hari pertama peminjaman uang saja nasabah sudah diteror.

"(Ancaman) dengan kalimat-kalimat fitnah dan tidak sesuai dengan kondisi yang terjadi sebenarnya, yaitu seolah-olah nasabah adalah selaku pengedar narkoba dan pelaku pencabulan anak di bawah umur," lanjutnya.

Sebelumnya, Dittipideksus Bareskrim Polri menangkap 8 pelaku pinjol ilegal bernama KSP Cinta Damai. Para pelaku ditangkap atas dugaan pencemaran nama baik, salah satunya dengan menyebut nasabah mereka sebagai bandar narkoba.

"Jadi kita telah lakukan penangkapan, total keseluruhan adalah 8 tersangka. Di mana mereka membuat pesan-pesan, tulisan yang mungkin sifatnya sudah mencemarkan nama baik. Contohnya adalah seperti dibuat seolah-olah bahwa borrower itu adalah bandar sabu, bandar narkoba," ujar Brigjen Helmy Santika, Kamis (29/7).

"Kemudian mohon maaf, kalau dia perempuan, di-crop, ditempelkan yang dengan yang tidak senonoh, serta yang lain-lainnya," sambungnya.

Wanti-wanti Polisi Agar Warga Tidak Pilih Pinjol Ilegal

Polri mengatakan banyak masyarakat yang butuh uang di tengah pandemi COVID-19 sehingga memilih meminjam uang ke aplikasi pinjaman online (pinjol). Namun, sayangnya banyak pinjol ilegal yang beredar sehingga justru meresahkan masyarakat.

"Tentunya pada situasi pandemi seperti saat ini, masyarakat tetap membutuhkan dana. Pada satu sisi dana untuk kebutuhan hidup di rumah tangganya, dan ada juga masyarakat yang butuh menambah modal untuk usahanya agar usahanya tetap berjalan walaupun pada masa pandemi ini," ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono dalam jumpa pers virtual, Kamis (29/7/2021).

"Dan salah satu pilihan masyarakat yang favorit sekarang yaitu dengan meminjam pada pinjol," sambungnya.


Rusdi menjelaskan banyak orang yang tergiur dengan pinjol karena pencairan uang yang ingin dipinjam bisa dilakukan secara cepat. Terlebih, pinjol juga menawarkan suku bunga rendah.

"Kemudian juga dengan bunga yang ditawarkan rendah, dan juga tenor atau waktu pemulangan daripada pinjaman ini yang cukup panjang. Ini beberapa hal yang membuat masyarakat tertarik menggunakan pinjol ini," tutur Rusdi.

Meski demikian, ternyata banyak aplikasi pinjol yang ilegal. Rusdi menyebut para pelaku pinjol ilegal kerap mengancam nasabahnya apabila tidak bisa mengembalikan uang dalam waktu dekat.

Seperti pinjol ilegal bernama KSP Cipta Damai yang baru-baru ini diungkap Dittipideksus Bareskrim. Pinjol ilegal tersebut diduga memfitnah nasabah sebagai bandar narkoba hingga mengancam untuk menyebarkan foto vulgar nasabah ke seluruh kontak di hp nya.

"Maka proses selanjutnya ada pengancaman-pengancaman yang dilakukan oleh para debt collector yang bekerja pada perusahaan peminjamannya. Sehingga, hal-hal seperti ini menimbulkan masalah-masalah di masyarakat. Cukup banyak laporan di kepolisian, baik di Bareskrim atau di satuan-satuan kewilayahan," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam Lumban Tobing menganggap pinjol ilegal sebagai kejahatan. Pasalnya, mereka tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Pinjol ini adalah kejahatan. Bukan sektor jasa keuangan. Kenapa? Karena mereka ini tidak terdaftar di OJK, di mana peraturan perundang-undangan mewajibkan terdaftar. Mereka sama sekali tidak terdaftar," kata Tobing.

Tobing mengatakan para pelaku pinjol ilegal juga sering mengganti alamat hingga nomor telepon sehingga sulit terlacak. Oleh karena itu, Tobing menekankan pinjol ilegal harus diberantas karena merupakan kejahatan.

"Kami dari Satgas Investasi memblokir sampai saat ini 3.365 pinjol ilegal. Tapi tidak cukup seperti itu. Kita blokir hari ini, besok ganti nama dan sebagainya. Harus penegakan hukum yang memberikan efek jera," ucapnya.

"Kerugian yang terjadi di masyarakat dari kerugian materil dan imateril. Materil mereka ini menipu sebenarnya. Jadi ketika masyarakat download aplikasinya, pinjam Rp 1 juta, yang ditransfer hanya Rp 500 ribu. Bunganya juga tidak sesuai perjanjian dan jangka waktunya juga. Ini penipuan dan pemerasan. Dan juga mereka ini menyebarkan data pribadi peminjam. Jadi sudah tepat mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatannya karena kejahatan," imbuh Tobing.

(isa/isa)