Catat! Ini Pedoman Pemulasaraan Jenazah COVID-19 dari MUI

Khoirul Anam - detikNews
Kamis, 29 Jul 2021 15:54 WIB
relawan tim pemulasaraan jenazah saat memakamkan pasien COVID-19
Foto: Chuk Shatu Widarsha
Jakarta -

Penanganan jenazah pasien COVID-19 dinilai menjadi tanggung jawab bersama. Wakil Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Abdul Muiz Ali mengatakan kewajiban pemulasaraan jenazah COVID-19 tidak hanya berlaku bagi tim medis dan relawan, melainkan tanggung jawab semua masyarakat.

"Kalau dalam satu arya, tidak ada satu pun di antara kita melakukan pemulasaraan jenazah, maka sekampung, se-RT itu dosa semuanya. Maka bersyukur kepada para relawan, tim medis, yang tetap menjadi garda terdepan untuk menjadi pelayan masyarakat," katanya dalam Webinar Relawan Berperan: Tata Laksana Pemulasaran Jenazah COVID-19, Kamis (29/7/2021).

Sementara itu, Abdul Muiz menjelaskan bahwa pihaknya tidak melarang memandikan jenazah COVID-19. Namun, pelarangan dilakukan karena memandikan jenazah pasien COVID-19 memerlukan penanganan khusus dengan mengutamakan protokol kesehatan.

"Menolak bahaya itu harus didahulukan daripada sekadar mencari kemaslahatan. Maka dalam kondisi tidak normal, ibadah apa pun, termasuk merawat orang mati yang terinfeksi COVID-19 dilakukan dengan cara sebisanya," kata dia.

Lebih lanjut, ia kemudian memaparkan pedoman yang telah diterbitkan MUI dalam pengurusan jenazah pasien COVID-19. Beberapa pedoman tersebut, yakni jenazah dimandikan tanpa harus dibuka pakaiannya dan petugas wajib berjenis kelamin yang sama dengan jenazah.

Adapun jika tidak ada petugas yang berjenis kelamin sama, maka jenazah dimandikan oleh petugas yang ada, dengan syarat jenazah dimandikan tetap memakai pakaian. Sementara itu, jika tidak ada, maka jenazah ditayamumkan.

Selanjutnya adalah petugas membersihkan najis (jika ada) sebelum memandikan jenazah dan petugas memandikan jenazah dengan cara mengalirkan air secara merata ke seluruh tubuh.

"Kalau tidak ada alat untuk mengucurkan air, cukup disemprotkan saja. Disemprot tidak apa-apa. Yang penting airnya itu mengalir dan merata setelah mayit itu najisnya dihilangkan," katanya.

Abdul Muiz mengungkapkan, jika ada saran pertimbangan ahli terpercaya bahwa jenazah tidak mungkin dimandikan, maka dapat diganti dengan tayamum sesuai ketentuan syariat Islam. Caranya adalah dengan mengusap wajah dan kedua tangan jenazah (minimal sampai pergelangan) dengan debu dan untuk kepentingan perlindungan diri pada saat mengusap petugas tetap menggunakan APD.

Sementara itu, jika menurut pendapat ahli terpercaya bahwa memandikan atau mentayamumkan tidak mungkin dilakukan karena membahayakan petugas, maka berdasarkan ketentuan darurat, jenazah tidak dimandikan atau tayamum.

Di samping itu, MUI juga menerbitkan pedoman untuk menyalatkan jenazah pasien COVID-19. Di antaranya adalah disunahkan segera melakukan salat jenazah setelah dikafani, dilakukan di tempat yang aman dari penularan COVID-19, dan dilakukan oleh umat Islam secara langsung minimal satu orang.

Jika tidak memungkinkan, kata dia, boleh disalatkan di kuburan sebelum atau sesudah dimakamkan. Adapun jika tidak memungkinkan, maka boleh disalatkan dari jauh (salat gaib).

"Pihak yang menyalatkan wajib menjaga diri dari penularan COVID-19. Jadi setelah (jenazah) dikafani, baru dimasukkan ke peti, baru disalatkan. Ya salat sunah, menyegerakan salat ini. Karena memang mayit itu yang baik segera dikuburkan," lanjut Abdul Muiz.

Pedoman lainnya yang diterbitkan MUI adalah berkaitan dengan penguburan jenazah pasien COVID-19. Pertama, dilakukan sesuai dengan ketentuan syariah dan protokol medis. Kedua, dilakukan dengan cara memasukkan jenazah bersama petinya ke dalam liang kubur tanpa harus membuka peti, plastik, dan kafan.

Abdul Muiz juga menyatakan bahwa menguburkan beberapa jenazah dalam satu liang kubur diperbolehkan karena keadaan darurat sebagaimana diatur dalam ketentuan Fatwa MUI nomor 34 tahun 2004 tentang Pengurusan Jenazah (Tajhiz al-Jana'iz) dalam Keadaan Darurat.

(prf/ega)