Kacau! IDI Dapat Keluhan Dokter Kehilangan Jadwal Vaksin Ketiga

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Kamis, 29 Jul 2021 08:32 WIB
Poster
Ilustrasi nakes (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengaku menerima banyak keluhan perihal vaksin ketiga. Salah satunya, IDI mendapat keluhan hilangnya jadwal vaksin ketiga dari tenaga kesehatan yang menangani COVID-19.

"Sudah (menerima keluhan)," kata Waketum IDI Slamet Budiarto kepada wartawan. Slamet ditanya mengenai apakah sudah mendapatkan keluhan terkait hilangnya jadwal vaksin ketiga, Kamis (29/7/2021).

Keluhan ini awalnya ramai di media sosial. Sejumlah akun yang mengaku sebagai nakes menyatakan sempat mendapat jadwal vaksin ketiga, namun hilang. Pengakuan-pengakuan di media sosial bermunculan seiring isu seorang influencer anak pengusaha sudah mendapat jatah vaksin ketiga.

Kembali ke Slamet, dia mengaku tidak mengetahui berapa jumlah keluhan yang sudah diterima IDI. Namun dia menekankan, banyak dokter yang mengeluh belum mendapatkan vaksin ketiga.

"Kalau berapanya kita nggak tahu, tapi mereka mengeluh kenapa belum mendapatkan vaksin," ujarnya.

Slamet pun menyebut ada diskriminasi dalam pemberian vaksin ketiga. Menurutnya, dokter-dokter yang menjadi garda terdepan justru tidak diprioritaskan.

"Ada diskriminasi, dokter-dokter yang di garda terdepan, misalnya dokter PPDN pendidikan, dokter spesialis saja belum dikasih, dokter-dokter yang di rumah sakit, di klinik, di rumah sakit nggak ada yang dikasih. Yang kita heran, malah 50 guru besar yang tidak menangani langsung yang divaksinasi. Harusnya kan yang di garda terdepan yang menangani pasien. Dan kenapa hanya rumah sakit vertikal, rumah sakit lain belum?" tutur Slamet.

Selain itu, kata Slamet, baru tenaga kesehatan di rumah sakit milik Kementerian Kesehatan yang menerima vaksin ketiga. Menurutnya, saat ini baru sekitar 4 persen dari 1,4 juta dokter yang divaksinasi ketiga.

"Itu baru di rumah-rumah sakit milik Kementerian Kesehatan. Mungkin baru 4 persen ya, nggak ada 5 persen ya, mungkin. Baru 5.000 mungkin. Nggak nyampe 5.000 paling, berarti kan dari 1,4 juta kan. Ya Menkes harus mempercepat, ini menyangkut nyawa," kata dia.

"Ini kan menyangkut nyawa. Ini menyangkut nyawa. Ditambah ada informasi influencer, ini kan menyakitkan kami tenaga kesehatan," imbuh Slamet.

IDI juga prihatin dengan kabar influencer mendapat vaksin ketiga. Simak di halaman berikutnya.

Lihat juga Video: Penjelasan Pakar soal Booster Vaksin COVID-19 Tak Pakai Sinovac

[Gambas:Video 20detik]